JAKARTA – Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Golkar, PAN dan PPP mulai laris manis. Ridwan Kamil atau Kang Emil yang selama ini namanya masuk dalam bursa capres, sudah merapat.
Namun, dengan elektabilitas Kang Emil yang masih rendah, tentu akan sulit bagi KIB memberikan tiket capres ke Gubernur Jawa Barat itu. Lalu, mungkinkah koalisi yang digagas Airlangga cs ini akan mengusung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang memiliki elektabilitas lebih tinggi?
Merapatnya Kang Emil ditandai dengan kedatangannya menjalin silaturahmi dengan 2 pimpinan partai dari KIB, yakni Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. Pertemuan Emil dengan Airlangga dan Zulhas digelar secara terpisah, tapi digelar di hari yang sama.
Pertemuan dengan Airlangga dilakukan di rumah dinas di Komplek Widya Chandra III, No. 6, Jakarta. Sementara pertemuan dengan Zulhas digelar di kediaman bos PAN di Komplek Widya Chandra.
Emil tiba di kediaman Airlangga sekitar pukul 5 sore. Emil yang mengenakan jaket cokelat dan masker itu, ditemani istrinya, Atalia Praratya yang mengenakan kemeja dan kerudung merah muda. Emil datang ke lokasi saat sedang gerimis. Dia turun lebih dulu dari mobil untuk menjemput dan memayungi Istrinya masuk ke rumah dinas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu.
Kepada wartawan yang menanyakan kabarnya, gubernur berlatarbelakang arsitek itu, mengatakan dalam keadaan sehat. “Sehat, Alhamdulillah,” singkatnya sembari memasuki rumah Airlangga.
Beres bincang-bincang dengan Airlangga, Emil kembali disapa wartawan. Kali ini, dia banyak bicara. Kata dia, pertemuannya dengan Airlangga selain untuk silaturahmi, juga membahas pembangunan Jabar dan dinamika politik.
“Silaturahmi itu mulia, panjang rezeki, ngurangin stres, menguatkan daya ingat, menambah imunitas, berpahala, di suasana Lebaran,” sebut Emil.
Gimana soal Pilpres? Eks Wali Kota Bandung itu menegaskan, soal Pilpres 2024, dia mendukung Airlangga. Alasannya, Ketum Golkar itu telah berjasa mengantarkan dirinya menjadi Gubernur Jabar di Pilkada 2018.
“Saya dukung cita-cita politik Pak Airlangga. Apapun itu. Beliau punya kapasitas dan tanggung jawab besar, termasuk kalau nanti ada dimensi-dimensi politik yang mungkin tidak bisa dihitung dari sekarang,” ungkapnya.
Namun, Emil irit bicara saat ditanya soal tawaran-tawaran politik dari Beringin, termasuk kemungkinan digandeng Airlangga untuk Pilpres 2024.
“Kan belum sampai tahap ke situ (pembicaraannya), tapi kalau takdirnya sudah sampai ke situ, pertanyaannya juga bisa dijawab dengan mudah, kira-kira begitu,” tuturnya.
Usai dari rumah Airlangga, ternyata Emil tidak langsung balik ke Bandung. Dia menyambangi rumah dinas Zulkifli Hasan yang tak jauh dari kediaman Airlangga. Sayangnya, pertemuan Emil dengan Zulhas itu tidak diketahui media.
Pertemuan itu diketahui lewat unggahan akun Twitter pribadi Zulhas, @ZUL_Hasan. Di akun Twitternya, Wakil Ketua MPR itu mengunggah foto-foto pertemuannya dengan Kang Emil pada Minggu (15/5).
Dikonfirmasi terpisah, Emil membenarkan adanya pertemuan dengan Zulhas. Sama dengan tujuannya ke kediaman Airlangga, Emil menyebut kunjungannya ke Zulhas juga dalam rangka silaturahmi.
“Silaturahmi itu mulia, panjang rezeki, ngurangin stres, menguatkan daya ingat, menambah imunitas, berpahala, di suasana Lebaran,” ujarnya, mengulang jawaban di rumah Airlangga.
Apa dampak kedatangan Emil ke dua tokoh KIB ini? Pengamat Politik dari Saiful Mujani Research and Consulting, Saidiman Ahmad menilai wajar Emil sudah merapat ke KIB. Meskipun terdiri dari 3 parpol yang sudah memenuhi persyaratan untuk mengajukan capres-cawapres, kata dia, KIB masih belum punya tokoh yang bisa dijual.
Hal ini membuat nama-nama yang punya elektabilitas tinggi, tertarik untuk merapat ke kubu Airlangga cs.
“RK belum punya partai pengusung. RK masuk enam besar tokoh potensial jadi calon presiden,” jelas Saidiman saat dihubungi Rakyat Merdeka (Tangsel Pos Group) kemarin.
Namun, apakah nantinya Emil bakal diusung Airlangga, Saidiman mengaku peluang itu sangat kecil. Alasannya, elektabilitas yang dimiliki Emil masih berada jauh di bawah Ganjar dan Anies Baswedan.
“Peluang RK diusung capres masih lumayan berat,” tekannya.
Menurutnya, ketimbang Emil, peluang besar tokoh yang akan diusung Airlangga cs justru pada Ganjar. Mengingat, dalam berbagai survei, Ganjar selalu konsisten berada di 3 besar. Apalagi, Ganjar memiliki basis pendukung yang berasal dari relawan Jokowi di Pilpres 2019.
“Skenario pertama tentu adalah KIB mengusung capres populer seperti Ganjar, cawapresnya dari salah satu ketua partai, seperti Pak Airlangga. Formasi ini cukup ideal,” nilai pengamat politik jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Hal senada juga disampaikan Pengamat Politik, Wasisto Rahadjo Jati. Menurutnya, pertemuan Emil dengan 2 bos parpol KIB bagian dari penjajakan.
“Golkar masih berupaya mencari tokoh populis kuat untuk bisa diusung dalam Pilpres 2024,” jelas Wasis.
Untuk posisi capres dan calon wakil presiden, Wasis melihat, saat ini KIB butuh sosok yang populis. Sejauh ini, baru Airlangga yang didorong Golkar mau sebagai calon presiden.
“Nama tokoh di luar 3 parpol itu, tentu bakal menjadi pertimbangan utama untuk diberikan tiket nyapres,” tegasnya.
Apa tanggapan KIB? Ketua DPP Golkar, Dave Laksono membantah pertemuan Airlangga dengan Emil bagian dari penjajakan. Kata dia, sejauh ini, 3 parpol belum membahas soal pencapresan.
“Pertemuan tiga ketum itu baru silahturahmi awal, belum menyepakati soal pasangan pada Pilpres yang akan datang. Akan tetapi bisa membuat kesepakatan yang akan bermanfaat bagi masyarakat umum,” jawabnya.
Wakil Ketua Umum PAN, Viva Yoga Mauladi menegaskan, KIB belum berbicara soal figur kandidat capres atau cawapres.
“Masih didiskusikan tentang syarat dan kriteria, variabel penilaian, tabulasi bakal calon, dan lain-lain. Jadi, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan. Keputusan itu nanti bulat mufakat, tidak voting,” terang Viva.
Sementara, soal pencapresan, PPP sepenuhnya menyerahkan ke Suharso Monoarfa selaku ketum.
Sebagaimana hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rampinas) II PPP di Jakarta beberapa waktu lalu, salah satu putusan rapimnas adalah memberikan amanah kepada Ketua Umum (Suharso) untuk menggalang koalisi dengan parpol lain yang memiliki kursi di Parlemen minimal 20 persen, dan membangun komunikasi dengan capres dan cawapres yang potensial.
“Saat ini bola dipegang oleh Ketum PPP Suharso Monoarfa,” tukas Wakil Ketua Umum PPP, Saifullah Tamliha. (AY)
Artikel telah tayang di rm.id
















Komentar