JAKARTA – Setelah pandemi Covid-19 melandai, virus Hepatitis mengintai kita. Hingga 9 Mei 2022, Indonesia memiliki 15 kasus hepatitis akut dengan mayoritas korban adalah anak usia 1-6 tahun.
Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian memahami kekhawatiran orang tua terhadap penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah. Aspek kehati-hatian harus ditingkatkan, namun tidak perlu panik.
Penularan hepatitis, lanjutnya, diduga melalui tangan, air, makanan, hingga alat makan dan bukan udara seperti Covid-19.
“PTM masih dapat dilaksanakan selama kebersihan makan dan minum anak terjaga dan kantin ditutup,” saran Hetifah dalam keterangannya, kemarin.
Untuk itu, Hetifah mendesak Kemendikbudristek melakukan langkah penanggulangan di lingkungan sekolah. Keluarkan surat edaran untuk menutup kantin, pelajar wajib bawa bekal. Lalu, protokol kesehatan (prokes) seperti cuci tangan dan memakai masker juga harus tetap dilaksanakan di lingkungan sekolah.
Walau vaksin hepatitis telah diwajibkan bagi bayi, namun cakupannya belum maksimal. Sehingga, pemerintah diharapkan menggalakkan vaksin ini lebih massif agar tercipta kekebalan jangka panjang.
“Ini merupakan langkah pencegahan dalam menanggulangi penyebaran hepatitis akut tersebut,” kata dia.
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menambahkan, Kemendikbudristek kudu bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk melakukan sosialisasi.
Ini menyangkut gejala, penanganan pertama, hingga penegakan protokol Kesehatan (prokes) di lingkungan sekolah.
Berdasarkan data dari Pemprov DKI Jakarta saat ini jumlah kasus hepatitis misterius terus bertambah.
“Setidaknya ada sekitar 21 kasus positif hepatitis akut dengan rincian 14 diderita anak di bawah usia 16 tahun dan 7 kasus dialami oleh mereka yang di atas usia 16 tahun,” ujar Huda, kemarin.
Selain itu, lanjut Huda, saat ini juga diketahui ada 24 anak yang mengalami gejala hepatitis meskipun belum dikategorikan sebagai hepatitis akut.
“Situasi ini cukup mengkhawatirkan sehingga perlu ada antisipasi dini mengingat pembelajaran tatap muka (PMK) saat ini hampir sepenuhnya telah berjalan,” ujar politikus PKB ini
Menurut Huda hingga saat ini belum diketahui pasti pemicu kasus hepatitis. Namun yang perlu diwaspadai kasus ini telah terjadi di berbagai negara dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.
“Banyak spekulasi terkait pemicu kasus ini. Ada analisis yang mengaitkan dengan dugaan model platform vaksinasi Covid-19 tertentu. Kami minta ada antisipasi khusus di lingkungan pendidikan karena wabah ini menular dan di Indonesia telah memicu korban jiwa,” pungkasnya. (AY)
Artikel telah tayang di rm.id
















Komentar