SETU-Setelah sekian lama, akhirnya Institut Teknologi Indonesia (ITI), Kota Tangsel melahirkan Guru Besar pertamanya dalam Ilmu Teknik Mesin. Gelar tersebut dinobatkan kepada sosok dosen senior yang telah aktif mengajar sejak 1986 silam yakni, Prof Dr. Ir, Dwita Suastiyanti, M. Si., IPM.
Rektor ITI, Marzan Aziz Iskandar menuturkan, kelahiran Guru Besar Ilmu Teknik Mesin ini merupakan suatu hal yang sangat dinanti oleh pihak kampus ITI sejak lama.
“ITI ini kan sudah berdiri selama 37 tahun, yang sudah melahirkan alumni lebih dari 12.500 orang. Saat ini mahasiswanya hampir 3.000 orang. Mereka ini kan ingin memiliki kebanggaan. Salah satu kebanggaannya ini adalah, ingin dididik oleh orang yang jagoan ngajar. Nah itu adalah profesor atau Guru Besar ini,” ujar Marzan di kampusnya yang terletak di Jalan Puspiptek, Kecamatan Setu, Kota Tangsel, Selasa (26/10).
Marzan menjelaskan, bahwa Prof Dr. Ir, Dwita Suastiyanti, M. Si., IPM merupakan Guru Besar kedua yang dimiliki oleh ITI. “Jadi kami memang merindukan. Oleh karena itu, ini adalah sebagai momentum. Bidangnya pun hebat, teknik mesin. Beliau perempuan, dan Guru Besar pertama dalam bidang teknik mesin,” katanya.
Ia berharap agar ke depannya ITI dapat lebih melebarkan sayapnya dan mampu mencetak generasi sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
“Pengukuhan ini akan membuat citra ITI menjadi perguruan teknik yang baik, yang unggul, dan akan semakin meningkat. Kemudian tentu reputasi meningkat, mitra-mitra perguruan tinggi lain, industri, akan senang kerjasama dengan kita. Kita ingin prodi teknik mesin kan unggul. Kalau unggul, akan membuat calon mahasiswa berbondong-bondong datang, karena terjamin,” harapnya.
Sementara, Prof Dwita Suastiyanti mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya atas pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Ilmu Teknik Mesin pertama di Kampus ITI ini. Pasalnya, gelar tersebut tak diraihnya dengan mudah.
Perjalanan panjang pun telah dilaluinya. Mulai mengajar sebagai dosen, dipercaya sebagai kepala program studi, hingga kini menjabat sebagai Wakil Rektor A Bidang Akademik, Penelitian, dan Kemahasiswaan ITI.
“Ya saya sangat bersyukur atas capaian saya sampai dengan hari ini. Karena ini adalah perjalanan yang cukup panjang ya dengan perjuangan yang sangat penuh dinamika dan tidak gampang,” ujar Prof Dwita.
Ia membutuhkan waktu hingga lebih dari setahun untuk menjadi Guru Besar ini. “Kurang lebih itu satu setengah tahun. Prosesnya itu mulai dari kita submit, kemudian dikembalikan, karena ada yang kurang publikasinya, kemudian saya lengkapi dan submit kembali, kembalikan lagi. Jadi memang dinamikanya luar biasa dan butuh kesabaran serta dukungan. Karena peran orang-orang di sekitar saya juga sangat membantu,” terangnya.
Sosok yang dikenal sangat mengayomi mahasiswanya tersebut bertekad untuk mencetak generasi yang unggul. “Ya sangat setuju, karena memang jabatan akademik Guru Besar itu kan menggambarkan kualitas seorang dosen. Artinya kualitasnya juga lebih baik. Saya berharap mudah-mudah peran dan kontribusi saya sebagai Guru Besar dapat bermanfaat, serta menjadikan prodi dan mahasiswa menjadi unggul,” pungkasnya. (dra)
















Komentar