JAKARTA – Kasus Covid-19 di Tanah Air terus melandai. Pemerintah juga sudah memberikan pelonggaran. Salah satunya, memberikan izin bagi masyarakat tidak mengenakan masker saat di luar ruangan.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memastikan, Indonesia percaya diri masuk ke fase endemi Covid-19.
Dasarnya, dalam tiga pekan terakhir angka kasus Covid-19 di Tanah Air cenderung landai, meski terjadi kenaikan di beberapa kota, seperti DKI Jakarta.
“Bapak Presiden sudah mengizinkan kita membuka masker. Terutama di luar. Di sini juga boleh, silakan saja,” ujar Muhadjir saat memberikan sambutan acara penandatanganan dokumen serah terima hunian usai bencana gempa bumi Sulawesi Tengah, di Ruang Heritage Gedung Kemenko PMK, Jakarta Pusat, kemarin.
Sontak, riuh tepuk tangan menggema di ruangan itu. Beberapa pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan pihak swasta yang hadir, melepas maskernya. Tapi sebagian besar, masih memakainya.
Di ruangan berkapasitas 200 orang tersebut, hanya diisi 50 orang. Duduknya pun dibuat berjarak. Masing-masing sekitar satu meter. Ventilasi juga dibuka, meski ruangan itu ber-AC.
Semua hadirin dipastikan sudah memindai PeduliLindungi di pintu masuk. Hand sanitizer juga disediakan di berbagai area.
Muhadjir melanjutkan, pada tahap berikutnya, Pemerintah akan memberi kelonggaran untuk tidak mengenakan masker di mana pun. Termasuk, di dalam ruangan.
Selain itu, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga berpeluang dihentikan, atau dihapus.
“Sangat besar peluangnya (dihentikan). Kalau sudah terkendali, masa PPKM terus,” seloroh mantan Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) ini.
Ditanya kapan PPKM akan dihentikan, Muhadjir belum bisa memastikan. “Secepatnya,” jawab dia.
Muhadjir juga mengatakan, Pemerintah akan menutup Wisma Atlet Kemayoran jika Indonesia sudah masuk fase endemi.
“Ya kalau sudah nggak ada pandemi ditutup,” ucapnya.
Menurutnya, Pemerintah akan melakukan uji coba transisi menuju endemi pada 23 Mei mendatang. Tepatnya, saat pertemuan internasional Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR).
Pertemuan ini akan digelar secara luring dengan peserta sekitar 4.000 orang. Menurut Muhadjir, Presiden Jokowi sudah setuju tidak menerapkan sistem travel bubble dalam perhelatan tersebut.
Seperti diketahui, travel bubble adalah sistem koridor perjalanan yang bertujuan untuk membagi peserta ke dalam kelompok (bubble), dengan memisahkan peserta atau seseorang yang memiliki risiko terpapar Covid-19, baik dari riwayat kontak atau riwayat bepergian ke wilayah yang telah terjadi transmisi komunitas dengan masyarakat umum.
Hal ini disertai dengan pembatasan interaksi hanya kepada orang di dalam satu kelompok yang sama dan penerapan prinsip karantina untuk meminimalisir risiko penyebaran Covid-19.
“Tadi saya menghadap Bapak Presiden, beliau menyetujui tidak adanya travel bubble. Ini sekaligus untuk membangkitkan percaya diri kita, bahwa kita telah menuju era endemi. Mudah-mudahan semua bisa membaik,” harap Muhadjir, sekaligus menutup sambutannya.
Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memastikan Indonesia sudah resmi masuk masa transisi dari pandemi menjadi endemi.
“Kita sudah menuju transisi pandemi ke endemi. Kan pandemi belum selesai secara global dan itu ditentukan oleh WHO,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers, Selasa (17/5). (AY)
Artikel telah tayang di rm.id
















Komentar