oleh

Pilpres 2024 Ikut Pola Filipina

JAKARTA – Putra diktator Filipina Ferdinand Marcos Jr, memenangi Pilpres. Bisakah pola ini terjadi di Indonesia?

Dari sisi figur atau tokoh, itu tidak akan terjadi pada Pilpres 2024. Karena kita tahu para kandidat kuat yang kemungkinan mewarnai Pilpres 2024.

Tapi, suatu saat, beberapa pemilu lagi, sangat mungkin itu terjadi. Syaratnya, pertama, ada tokoh kuat yang muncul atau dimunculkan.

Kedua, anak-anak muda, para pemilih baru, dibingungkan oleh sejarah masa lalu yang sudah “diacak-acak” dan “diluruskan”.

Para pemilih galau ini tidak lagi peduli sejarah. Mereka lebih peduli kondisi terkini yang mereka hadapi: baik atau buruk.

Dalam beberapa Pilkada misalnya, bahkan koruptor pun bisa memenangi pemilihan. Aneh. Tapi nyata. Fenomena itu bisa menguat, bahkan di Pilpres, karena sifat orang Indonesia yang pelupa, sedikit pemaaf dan permissive.

Namun, ada pola Pilpres Filipina yang bisa terjadi dalam Pilpres 2024 mendatang. Apa itu? Disinformasi!

Salah satu faktor penyebab kemenangan Marcos junior dalam Pilpres Filipina, seperti dikatakan para ahli, adalah disinformasi.

Ini sebenarnya bukan taktik atau strategi baru. Ahli propaganda Nazi, Joseph Goebbels, sudah melakukannya puluhan tahun lalu.

Dengan taktik itu, Goebbels berhasil membawa Hitler ke puncak kekuasaan. Dengan keahliannya, dia bisa mengubah hitam jadi putih, atau putih menjadi abu-abu. Seorang germo misalnya, dipolesnya menjadi pahlawan yang dielu-elukan. Tentu saja untuk kepentingan partai dan pemilihan. “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi kebenaran,” demikian doktrin Goebbels yang paling terkenal dan banyak diikuti. Terutama saat kampanye. Sampai sekarang. Dimanapun.

Dalam Pilpres Filipina, banyak sekali influencer yang terlibat. Salah satunya Arnel Agravante, seorang YouTuber. Kepada para pengikutnya dia mengaku mengetahui bagaimana Ferdinand Marcos Jr, menjadi kaya.

“Ferdinand Marcos Sr,” katanya, “tidak menjarah uang negara seperti yang diberitakan. Tapi, Marcos Sr diberikan emas berton-ton oleh keluarga kerajaan yang tertutup di Filipina”.

Kisah “emas kerajaan” itu sudah dibantah banyak pemeriksa fakta bahkan oleh Marcos Jr. Tapi Agravante tetap mengulangnya. Terus menerus. “Karena kami adalah bagian dari media alternatif,” dalihnya.

Seorang juru bicara YouTube mengatakan perusahaannya telah menghapus lebih dari 400.000 video karena melakukan ujaran kebencian, pelecehan, dan misinformasi pemilu.

Tapi upaya itu tidak mengakhiri persaingan tidak sehat menuju kursi Filipina 1. Para pegiat media sosial selalu punya cara untuk mencari celah. Apa yang mereka lakukan? Live streaming! Terutama saat kampanye.

Streaming langsung, tidak bisa disensor. Semuanya lancar jaya. Termasuk membanjiri publik dengan hoax dan disinformasi. Ini sangat mengkhawatirkan. Karena, dengan “informasi” itu, rakyat bisa mendapatkan tokoh yang salah. Yang indah di luar, tapi busuk di dalam.

Pertanyaannya: seberapa kuat pola atau taktik itu akan “diterapkan” dan mewarnai Pilpres Indonesia 2024? (AY)

 

https://rm.id/baca-berita/vox-populi/124331/pilpres-2024-ikut-pola-filipina

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya