JAKARTA – Pertanyaan mendasar kepada diri kita, jenis tobat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan?
Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat? Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa? Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT?
Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa rasa penyesalan sedikit pun?
Tidak terkecuali siapapun di antara kita, sepantasnya mengintip umur kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki, semisal uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.
Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figur keteladanan orang tua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita?
Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan. Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuaan yang melekat di wajah kita. Di depan mereka, kita malaikat tetapi di luar sana kita iblis.
Masyarakat modern sarat dengan tradisi hipokrasi dan kemunafikan. Hanya karena menginginkan jabatan atau harta, di antara mereka tega mengorbankan musuh-musuhnya. Tentu kita berharap semoga taubat kita diterima sepenuhnya oleh Allah SWT. (http://rm.id/AY)
















Komentar