oleh

In Memoriam Margiono : Bukan Wartawan Biasa

Selamat jalan Mas Margiono. Wartawan senior, sejawat, sahabat, sosok hangat, yang berpulang ke Rakhmatullah Selasa (1/2/2022) pukul 09.02 WIB di RSPP Modular, Jakarta. Margiono mengembuskan nafas terakhir dalam usia 61 tahun setelah sepuluh hari dirawat di ruang UGD RSPP. Meninggalkan isteri dan tujuh anak. 

Margiono bukan wartawan biasa. Satu dari hanya sedikit wartawan yang berkarier dari bawah hingga sukses sebagai pengusaha membangun konglomerasi media. 

Saya beruntung pernah satu “perahu” bersama dia di dalam dua priode kepengurusan di PWI Pusat ( 2008-2018).  

Priode pertama, saya sebagai sekretaris. Priode kedua, sebagai Ketua Dewan Kehormatan PWI. Untuk posisi terakhir, itu lebih karena permintaan khusus Margiono. Detik- detik menjelang acara pemilihan di kongres Banjarmasin (2013), Margiono mengundang saya ke kamarnya. Dia ” menodong ” saya. 

Beberapa pengurus PWI provinsi sudah ada di situ. “ Ini Pak, teman- teman dari PWI provinsi. Dia mendesak saya meminta Pak Ilham agar bersedia menjadi Ketua Dewan Kehormatan priode ini,” kata dia. 

Permintaannya tidak langsung saya penuhi. Sempat saya tanya banyak hal dan kami diskusikan bersama. 

Juga soal sensitif ini : dapatkah dia menerima koreksi jika melakukan kekeliruan? Saya ingat pesan leluhur dari tanah Bugis, ” jangan berkawan dengan orang yang tidak berani kau lawan berkelahi.”

Berkelahi di sini bukan konteks tarung fisik. Mungkin terjemahannya di zaman now, harus berani mengingatkan kawan seiring supaya tidak melenceng saat mengemban amanah. Hanya dengan cara itulah kolaborasi atau bekerjasama bisa dicapai manfaatnya untuk kepentingan umum. Margiono setuju. Pada dasarnya, ia memang sosok demokratis. Darah wartawannya kental. Suka mengkritik, harus terbuka pula jika dikritik, dikoreksi. 

Reformis

Saya menulis artikel ” Mokasih Margiono” waktu melepas Margiono purna tugas sebagai Ketum PWI, tahun 2008. Seperti halnya Tarman Azzam (Ketua Umum PWI Priode 1999-2008), Margiono layak lanjut tiga priode. Namun, konstitusi PWI membatasi itu.

Perkenankan saya mengutip sebagian poin tulisan itu di sini. Margiono bisa dicatat salah satu wartawan yang ikut menggelindingkan reformasi untuk menggantikan pemerintahan Orde Baru lewat medianya.

Jejak digitalnya bisa ditelusuri dari karya -karya jurnalistiknya masa itu. Salah satu yang menonjol, pernah menggegerkan Tanah Air, di ujung pemerintahan rezim Orde Baru.

Majalah D&R yang dia dipimpin menyajikan cover story tentang Pak Harto. Gambar sampulnya : Presiden Soeharto berpakain raja dalam kartu King.  

Departemen Penerangan kemudian membatalkan SIUPP majalah itu, dan tamatlah riwayat D&R. Margiono sendiri kena sanksi dari pengurus PWI. Tapi ia tak mutung. Ia tidak ikut habis. 

Saya berkenalan pertama kali dengan Margiono saat bertemu di PWI Jaya untuk mendiskusikan kasus D&R itu. Saya yang menyampaikan sanksi PWI kepadanya. Perhatikan, dia tak pernah menyimpan dendam. 

Semakin akrab setelah kami bergabung dalam kepengurusan Tarman Azzam priode kedua, 2003 – 2008. Posisi Margiono Ketua Bidang Daerah PWI Pusat. 

Cium Tangan 

Margiono teman yang menyenangkan. Rendah hati. Terbuka, tidak ada yang tersembunyi. Saya ingat pernah menjadi among tamu dalam resepsi pernikahan putra saya. Tak ada protes ketika ternyata seragam yang dikenakan lebih kecil dari ukurannya.

Entah karena percaya — seperti dikatakannya — atau memang mau menguji saja. Satu kali ia mengajak saya menghadiri satu acara PWI di daerah. Salah satu agendanya, menampilkan dia sebagai pembicara utama seminar tentang perbankan syariah. Selesai acara peresmian oleh gubernur setempat, ia pun mengantar gubernur itu pulang sampai ke pintu mobilnya. Saat seminar akan dimulai Margiono belum kembali ke tempat acara. Panitia panik.

Pembicara lain sudah di atas panggung. MC berulang kali memanggil namanya. Sepuluh menit kemudian, panitia mendekati saya. Ia berbisik. Menyampaikan pesan, Margiono mendadak berhalangan. Dia minta saya menggantikan. Ya, ampun! Saya tak punya bahan. Tahu ada seminar saja, baru saat itu. Bismillah. Ajaib. Seminar kelar. 

” Maaf, Pak. Saya mendadak dipanggil ke Jakarta. Saya yakin Pak Ilham bisa atasi itu, makanya nyaman saya tinggal” ujarnya pertelepon beberapa jam setelah itu.

Bukan sekali Margiono begitu. Pernah juga di masa Tarman Azzam, kami bepergian keluar kota bersama beberapa pengurus. Sudah check in bersama di ruang tunggu bandara. Tiba saat boarding, Margiono hilang. Dicari-cari tidak ketemu. Pesawat pun take off tanpa dia. Itu kelemahannya. Tapi mana manusia yang sempurna.

Ada kawan yang bilang, Margiono sering menggunakan firasatnya, atau entah apa namanya. Mungkin hari itu kata hatinya memberi wangsit melarang dia terbang. Wallahualam.

Margiono toh sangat hormat pada senior. Tak sungkan dia mencium tangan orang yang dihormatinya. Saya sering segera menarik tangan setelah berjabatan. Ketika fotonya beredar mencium tangan Presiden SBY, netizen di sosial media geger. Juga kawan-kawan internal PWI yang menggunjingkan itu.

Padahal, lazim saja bagi orang yang dididik di lingkungan pesantren. Itulah salah satu ciri kearifan lokal. Cium tangan tanda penghormatan, bukan simbol menghamba.

Dalam rapat PWI Margiono lebih sering irit bicara. Dia meluangkan waktu banyak mendengar. Menyimak diskusi. Menyilahkan semua yang hadir bicara. Maunya keputusan organisasi selalu didiskusikan. Tidak mengapa melalui proses perdebatan sengit. 

Dia mendesain ruang rapat yang besar dan nyaman di kantor PWI Pusat untuk tujuan itu. Agar bisa menghadirkan semua pengurus menyampaikan pandangannya. Setiap kali rapat pengambilan keputusan organisasi dia melibatkan semua pengurus ambil peran.

” Artinya setelah menjadi putusan, itu adalah keputusan bersama, tanggung jawab bersama. Tidak ada yang merasa ditinggal,” katanya. 

Sikapnya baiknya yang lain, percaya teman. Percaya saja laporan teman-teman pengurus lain tanpa banyak cincong. Meski, sesekali ia dapati juga fakta di lapangan berbeda dengan yang dilaporkan.

Margiono malah rikuh hadapi beberapa gelintir oknum yang menghamba kepada dia. Sebab sering cara itu cuma modus. Motifnya beda, bukan penghormatan.

Dalam melaksanakan prinsip kerja jurnalistik secara profesional, dia keras. Dia tahu fungsi pers sebagai alat kontrol kekuasaan. Bukan humas penguasa atau alat pengusaha.

Koran “Rakyat Merdeka” miliknya identik betul dengan sikap dan gaya Margiono. Judul headlinenya khas, tajam tapi jenaka.

Saya masih ingat headline RM : “Mulut Megawati Bau Solar”. Headline itu disiarkan di masa pemerintahan Presiden Megawati, untuk menyindir kenaikan BBM.

Di tahun-tahun awal “Rakyat Merdeka” terbit Margiono cukup repot melayani sumber berita yang memperkarakannya. Alhasil, Koran Rakyat Merdeka pun menjadi satu-satunya media di dunia ini yang pernah punya sebelas pemimpin redaksi. 

Setiap hari bisa sampai 11 perkara yang harus dihadapi di Pengadilan atau panggilan pemeriksaan polisi. Supaya bisa menghadapi perkara itu dengan baik, angkat saja sebelas pemimpin redaksi. 

PWI pada awal kendali Margiono, masih mewarisi masa- masa sulit keuangan. Sumber pendapatan organisasi semakin berkurang. Itu penggambatan sekaligus, perhatian masyarakat pers termasuk wartawan anggotanya sendiri semakin berkurang terhadap organisasi. Sedangkan Margiono punya rencana mengubah persepsi umum tentang wartawan. Ia kepengin ada paradigma baru, maka ia menjejalkan banyak program. Pengurus sibuk, kantor PWI hidup. Margiono memecahkan berhasil dilemma mana lebih tepat ” berbuat dulu baru dapat biaya atau dapat biaya dulu baru berbuat”. Dia pilih yang pertama. Ide dulu. Uang ikut. Dan, ajaib. 

Kesulitan keuangan itu bisa dibuat mudah oleh kepiawaian manajemen Margiono. Sertifikat kompetensi wartawan yang menjadi syarat utama operasional wartawan di Tanah Air, lahir di masa dia. Sekarang di beberapa cabang PWI program itu menjadi provit center untuk membiayai kegiatan organisasi. 

Sumber ” Legitimasi” Sertifikat Kompetensi Wartawan adalah “Piagam Palembang ” yang disahkan pada pada puncak peringatan HPN 2010 di Palembang. 

Margiono melibatkan berbagai mitra PWI berperan menjadi sponsor mendanai berbagai program yang berbasis pendidikan bagi wartawan. Katanya selalu, kalau sepuluh program PWI, maka diurut dari nomer 1 sampai nomer 10, semuanya pendidikan. Selain ujian kompetensi, sekolah jurnalisme, seminar wartawan, dan berbagai sayembara penulisan.

“ Pemerintah mitra kerja swasta, justru yang paling berkepentingan kalau wartawan semakin berkualitas. Itu kincinya,” kata dia.

Hadiah besar Rp.50 juta untuk pemenang lomba jurnalistik Adinegoro, itu ide dia. Memecahkan rekor hadiah lomba penulisan sejenis.

“ Wartawan harus diberi motivasi supaya yakin dan cinta dengan profesinya,” pesannya. 

Selama priode kepemimpinannya, iuran anggota yang bertahun -tahun sulit ditagih, pun dibebaskan. Free of charge. Margiono memang kerap membiayai atau sekurangnya menalangin kebutuhan dana PWI dari kantong pribadinya. Sejak awal ia sudah menunjukkan kesungguhan itu. Setelah terpilih di Banda Aceh, program pertamanya merenovasi kantor PWI secara besar-besaran. 

” Supaya nyaman sebagai tempat bekerja,” kata pria kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur itu.

Margiono wafat sepekan sebelum peringatan Hari Pers Nasional 2022 di Kendari, Sulteng, 7-9 Februari. 

Kalau mau mengenal mendalam Margiono, dengar dia berpidato, terutama ketika di HPN dengan audiens lebih seribu orang. Ia bak aktor yang tampil ber “Stand U Comedy” yang mengendalikan audiensnya. Kritik keras namun halus, mengalir sepanjang pidato. Namun gerrnya juga dapat. 

Kemampuannya berpidato memukau mulai wartawan muda dari daerah terpencil hingga orang nomer satu di republik ini. 

Saya kira pidato ” Stand Up Comedy” itu salah satu yang akan dikenang banyak orang dari Margiono. Ia hanya bisa ditandingi oleh Tarman Azzam, dalam urusan pidato. Tarman adalah Ketua Umum PWI Pusat, juga dua priode, yang digantikan oleh Margiono. Tarman Azzam wafat 2016. 

Pidato Margiono di HPN selalu dinanti. Sabtu pagi — di hari Margiono pergi selamanya– saya jogging dengan Marah Sakti Siregar, di komplek rumah di Taman Villa Meruya, Jakarta Barat. Wartawan senior, mantan Ketua PWI Jaya, yang dipercaya Margiono memimpin Sekolah Jurnalis Indonesia ( SJI)

” Masih ada nggak daya tarik HPN selain pidato Margiono,yah? tanyanya. Entah kenapa tiba-tiba ingat Margiono. Satu jam setelah itu, Marah Sakti pula orang pertama mengirimi saya kabar Margiono wafat. 

Benar. Tidaklah berlebihan jika dikatakan banyak yang menghadiri HPN, di mana pun acaranya diselenggarakan, karena mau dengar pidato Margiono yang tanpa teks. Ah, saya masih terbayang gesture Margiono tiap kali berpidato di HPN. Tempat acara seperti terguncang – guncang oleh ledakan tawa. 

Mulanya, hanya mau kontrol di RS 

Saya menyesal tidak memenuhi undangan ngobrol di kantornya November tahun lalu. Tiga bulan lalu anggota Dewan Pers Agus Sudibyo menyampaikan undangan Margiono. Katanya, dia bersedia menerbitkan kumpulan tulisan lepas saya priode 2020-2021. Namun, karens masa itu pandemi masih meneror, saya minta tunda sampai pandemi reda saja baru meeting. Siapa menyangka Margiono akan pergi secepat itu? 

 

Sabtu ( 22/1) siang, Margiono ke RS Eka hanya untuk check up rutin . Ia memang mengidap sakit ginjal. Setahun terakhir rutin kontrol sebulan sekali. 

“Papa tiba-tiba sesak nafas ketika tiba di RS. Dokter UGD kemudian melakukan swab PCR yang hasilnya positif” cerita Rivo salah satu putra Margiono. 

Tiada lagi Margiono. Pada tahlilan malam pertama, saya diminta menberi sambutan oleh keluarga via aplikasi zoom. Saya menguraikan tanda- tanda baik Margiono sehingga layak mendapat terbaik di sisi Allah SWT. Saya berpesan kepada keluarga, lebih khusus untuk anak isterinya, agar memelihara kesabaran, ketabahan, memelihara keikhlasan melepas kepergian almarhum. Sering panjatkan doa.

Margiono toh tidak pergi kemana – mana. Ia hanya mendahului ke tempat yang semua kita juga akan ke sana. (Ilham Bintang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya