SERPONG-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) memastikan akan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) pada September mendatang. Namun pelaksanaannya dilakukan secara terbatas. Belajar di kelas hanya 2-4 jam dan siswa bergiliran masuk sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel, Taryono mengatakan, pihaknya sudah lama melakukan kajian dan persiapan terkait PTM ini. Bahkan sebelum Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat kali pertama diterapkan pada awal Juli lalu.
Lanjut Taryono, dari kajian dan persiapan dengan memverifikasi TK, PAUD, SD, dan SMP itu, pihaknya berniat melangsungkan PTM pada September mendatang. Namun pelaksanaannya dibatasi. Jam pelajaran pun hanya berkisar 2-4 jam saja.
Menurutnya, pelaksanakaan PTM terbatas mendesak dilakukan lantaran sudah banyak keluhan dari orangtua soal pembelajaran daring. “Insya Allah mudah-mudahan awal September PTM bisa dilakukan. Arahan Pak Walikota PTM itu agar segera dilaksanakan karena sudah banyak keluhan dari masyarakat,” kata Taryono, Kamis (26/8).
Taryono menerangkan, para pelajar juga sudah banyak mengeluhkan soal kejenuhan belajar secara online di rumah. “Pasti banyak keluhan, kan orangtua menginginkan sudah sekian lama pembelajaran jarak jauh. Ada banyak kerinduan anak untuk dapat melaksanakan PTM,” terangnya.
Dia menuturkan, pelaksanaan PTM terbatas di Kota Tangsel itu boleh dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri, Instruksi Mendagri Nomor 35 Tahun 2021 dan Surat Edaran Walikota Tangsel Nomor 443/2925/Huk tentang PPKM Level 3 yang berlaku dari 24-30 Agustus mendatang.
Sesuai namanya, PTM terbatas itu akan dilakukan dengan sejumlah pembatasan.
Siswa yang boleh melaksanakan PTM hanya 50 persen dari kapasitas ruang kelas dan pembelajaran hanya dilakukan pada jam efektif belajar 2-4 jam.
Sisanya, tetap akan melakukan pembelajaran daring dari rumah dan baru akan melaksanakan PTM pada giliran berikutnya. Sedangkan yang sudah melaksanakan PTM di sekolah akan kembali belajar daring.
“Jadi sistemnya rolling, dua hari Senin-Selasa kelompok pertama offline, satu hari fasilitas sekolah disterilkan dan Kamis-Jumat yang tadinya online bisa belajar offline di sekolah,” tutur Taryono.
Saat ini diperkirakan sudah ada 50 persen dari jumlah keseluruhan sekolah TK/PAUD, SD dan SMP di Tangsel yang sudah bersiap melaksanakan PTM. Hal itu diketahui dari pendataan di Daftar Pokok Pendidikan (Dapodik) yang diisi oleh masing-masing sekolah.
Salah satu syaratnya, lanjut Taryono, pelaksanaan PTM terbatas akan dilaksanakan jika vaksinasi di Tangsel sudah mencapai 70 persen. Sehingga pihaknya akan melakukan akselerasi percepatan vaksin bagi pelajar.
“Selain itu, syarat utama PTM terbatas dilaksanakan adalah persetujuan orangtua. Jadi kalau ada orangtua yang tidak mengizinkan anaknya untuk PTM di sekolah ya tidak boleh dipaksa,” ungkapnya.(dra)















Komentar