JAKARTA – Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mendesak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan kepala daerah sekitar daerah aglomerasi, untuk menghentikan skema Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Demi keselamatan dan kesehatan semua warga sekolah.
Sebab, PTM 100 persen di tengah situasi lonjakan Covid, sangat tidak aman.
Untuk diketahui, kenaikan jumlah kasus harian pada hari ini, Rabu (26/1), mencapai angka 7.010. DKI Jakarta menyumbang kasus positif tertinggi dengan angka 3.325.
“Kami memohon agar Pak Anies mengembalikan skema PTM Terbatas 50 persen. Pakai metode belajar blended learning saja. Sebagian siswa belajar dari rumah, dan sebagian dari sekolah. Ini cukup efektif mencegah learning loss, sekaligus life loss,” pinta Satriwan, Rabu (26/1).
Menurutnya, skema PTM 50 Persen sangat bisa diandalkan di DKI. Mengingat para guru dan siswa di Ibu Kota rata-rata sudah memiliki smartphone bahkan laptop/komputer, sinyal internet bagus, serta relatif tak ada kendala dari aspek infrastruktur digital.
Tentu dengan catatan, ada pendampingan orangtua dari rumah selama anak menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Saat ini, sudah 90 sekolah di DKI yang ditutup, menghentikan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen, akibat siswa dan guru positif Covid-19. Padahal, kegiatan PTM 100 persen ini belum berumur sebulan.
Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri meyakini, jumlah sekolah yang ditutup melebihi angka 90. Karena mungkin saja, ada orangtua yang belum lapor ke sekolah, dan sekolah yang belum lapor ke Disdik,” papar Iman.
“Karena itu, kami meminta Dinas Kesehatan Provinsi agar gencar melakukan swab PCR dan active case finding kepada pihak sekolah, siswa, dan guru untuk mendeteksi dan memitigasi kenaikan kasus,” imbuhnya.
Lemahnya Pengawasan
Satriawan menyebut, kondisi ini membuat para guru, orang tua, dan siswa merasa cemas dalam melaksanakan PTM 100 persen, yang saat ini masih berjalan.
Dia berpendapat, PTM 100 persen di tengah kondisi ini, tidak aman bagi guru dan siswa.
“Coba rasakan, bagaimana guru, siswa berinteraksi kayak sekolah normal. Karena 100 persen siswa masuk setiap hari. Sementara itu, angka kasus meningkat tajam tiap hari. Ini mengganggu pikiran dan kenyamanan belajar di sekolah,” papar Satriawan.
Data yang dihimpun P2G menunjukkan, ada beberapa sekolah di Jakarta sudah menghentikan PTM 100 persen sebanyak 2 kali, hanya dalam tempo 2 minggu, karena siswa dan gurunya positif Covid-19.
“Ada beberapa sekolah semula PTM 100 persen, lalu siswa kena Covid, PTM dihentikan 5×24 jam. Setelah itu PTM lagi, setelah beberapa hari PTM ada siswa positif lagi, terpaksa PTM dihentikan kembali. Ini kan tidak efektif. Sekolah buka tutup, buka tutup terus. Nggak tahu sampai kapan,” cetus Satriawan
Di sisi lain, P2G masih menemukan banyak pelanggaran PTM 100 persen yang terjadi. Jaga jarak 1 meter dalam kelas sulit dilakukan, karena ruang kelas relatif kecil ketimbang jumlah siswa, ruang sirkulasi udara tidak ada atau ventilasi udara tidak dibuka karena kelas ber-AC, dan siswa berkerumun dan nongkrong bersama sepulang sekolah. Selain itu, masih ada kantin sekolah buka secara diam-diam.
Satriawan menyebut, lemahnya pengawasan dari Satgas Covid-19 termasuk dinas terkait. Kedisiplinan terhadap prokes harus terus digaungkan. Mulai dari rumah, di jalan, angkutan umum, di sekolah, dan pulang sekolah.
Jangan Tunggu Puncak Kasus
P2G berharap, Pemprov DKI tidak meremehkan situasi Covid saat ini. Jangan tunggu puncak gelombang tiga Covid.
Di sekolah kita pernah belajar peribahasa: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. (RM.id/AY)
















Komentar