JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia berburu investor saat melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) pada Kamis, (12/5).
Keduanya bertemu dengan 12 pimpinan perusahaan asal Negeri Paman Sam dari berbagai sektor. Antara lain, teknologi data center, minyak dan gas, farmasi dan kesehatan, energi terbarukan, smelter pertambangan, industri makanan dan industri lampu LED.
Pada pertemuan itu, Luhut menyampaikan kepada 12 bos perusahaan Amerika Serikat tersebut, salah satu fokus Pemerintah Indonesia ke depan, yaitu pengembangan ekosistem ekonomi hijau.
Strateginya, kata Luhut, melalui mekanisme transisi energi dari bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan, restorasi ekosistem seperti hutan bakau, lahan gambut, dan hutan tropis.
“Indonesia menyambut baik minat investor asing dalam sektor ekosistem ekonomi hijau. Terutama pada mekanisme transisi energi dan kawasan industri, serta industri dengan nilai tambah,” ujar Luhut dalam keterangan resminya, kemarin.
Bahlil menimpali, Pemerintah Indonesia sangat terbuka terhadap investasi yang kolaboratif dan mendorong pemerataan ekonomi.
Salah satu kebijakan Pemerintah saat ini adalah mewajibkan kolaborasi antara investasi asing dengan pengusaha nasional. Terutama pengusaha lokal dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah.
“Kami berpendapat, sebuah investasi yang berkembang itu harus dimanfaatkan oleh semuanya, serta dapat tumbuh dan besar bersama-sama,” kata Bahlil.
Bahlil menjelaskan, pada pertemuan forum bisnis dengan 12 perusahaan ini, terdapat beberapa perkembangan menarik. Yakni, Microsoft akan membangun data center dan beberapa infrastruktur telekomunikasi, dan sudah mulai berjalan.
“Tadi kita mulai up to date dengan mereka,” katanya.
Selain itu, ada pertemuan dengan perusahaan Cargill, Air Product, serta Freeport.
Khusus soal Freeport, Bahlil melaporkan pembangunan smelter Freeport di Gresik sudah mencapai 40 persen. Ditargetkan akhir 2023 sudah beroperasi atau Commercial Operation Date (COD).
“Ini perintah Presiden Jokowi terkait implementasi Undang-undang Minerba (mineral dan batubara). Jadi, hilirisasi adalah satu kata kunci yang tidak diprioritaskan kepada salah satu perusahaan tertentu, tapi semuanya sama,” tegasnya.Kemudian, terdapat juga pembahasan dengan perusahaan lampu Alphalite. Perusahaan ini menyuplai kebutuhan lampu di hampir semua negara, serta C4V selaku industri baterai yang juga akan masuk ke Indonesia.
Bahlil mengungkapkan, sudah ada rencana untuk membangun ekosistem baterai mobil dengan beberapa investor. Mereka dari China, Korea, Jerman dan Inggris.
Ternyata, kata Bahlil, ada juga perusahaan dari Amerika Serikat yang tertarik ambil bagian masuk di Indonesia.
“Kami sudah menawarkan kepada mereka, jika tidak masuk investasi ekosistem baterai di Indonesia, perusahaan mungkin akan rugi. Sebab, semua bahan baku yang ada di Indonesia untuk ekosistem baterai mobil cukup bagus,” ungkapnya.
Chairman, President dan CEO Air Products Seifi Ghasemi mengapresiasi dukungan Pemerintah Indonesia dalam memastikan investasi Air Products di Indonesia terealisasi.
“Kami sangat percaya Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Sebab, populasi Indonesia yang masih muda dan dinamis, sumber daya alam yang melimpah, dan Pemerintahan demokrasi yang progresif serta mendukung investasi dari berbagai negara,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan President Freeport-McMoRan Kathleen Quirk. Dia menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas kerja sama yang telah terjalin selama 55 tahun.
Menurut Quirk, Freeport memiliki rencana investasi tembaga jangka panjang yang saat ini sedang berjalan.
“Kami berencana meningkatkan investasi di Indonesia dan semakin optimis untuk bekerja sama di masa mendatang,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi asal Amerika Serikat sejak tahun 2000-2021 telah mencapai 19,5 miliar dolar AS.
Khusus pada 2021, investasi asal Amerika Serikat mengalami peningkatan tajam, yaitu 234 persen dari tahun sebelumnya, dengan total nilai investasi sebesar 2,5 miliar dolar AS dan berada pada peringkat ke-4.
Salah satu sektor yang mendominasi investasi asal Amerika Serikat, yaitu pertambangan, jasa, utilitas, industri kimia dan farmasi serta industri makanan. (AY)
Artikel telah tayang di rm.id
















Komentar