JAKARTA – Serangan virus Covid-19 saat ini memang sudah tidak lagi menyeramkan seperti beberapa bulan lalu. Namun, vaksinasi sebagai senjata ampuh menangkal Covid-19 tetap harus ditingkatkan. Alasan utamanya: ingat ya, perang melawan Covid-19 belum tamat.
Hal ini juga yang jadi alasan Badan Intelijen Negara (BIN) tetap gerak cepat menyuntik vaksin Covid-19 ke berbagai daerah. Kemarin misalnya, BIN gelar vaksinasi di 18 provinsi. Mulai dari Sumatera Selatan hingga ke Papua Barat, wilayah paling Timur Indonesia.
Kepala BIN, Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan mengatakan, vaksinasi terus digencarkan menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022. Selain itu, vaksinasi tersebut juga sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam percepatan herd immunity.
“Menjelang libur Nataru, kita masifkan lagi kegiatan vaksinasi. Kami berharap kekebalan komunal masyarakat segera terbentuk dan pandemi Covid-19 bisa dikendalikan,” ujar Budi Gunawan, dalam keterangan tertulisnya, kemarin.
Ke-18 provinsi yang mengelar vaksinasi BIN adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, dan Kepulauan Riau. Lalu Jawa Barat, DIY, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Timur, hingga Papua Barat.
Di Sumsel, BIN menggelar vaksinasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Sasarannya adalah 300 masyarakat di Kecamatan Lempuing, termasuk tiga orang mantan narapidana kasus terorisme yang telah bersumpah setia kepada NKRI.
“Kami mengajak masyarakat semuanya untuk bisa melaksanakan vaksinasi agar segera tercapai apa yang ditargetkan pemerintah,” ujar Letkol Ervan Sunandar selaku Koordinator Wilayah Binda Sumsel.
Sementara itu di Papua Barat, vaksinasi terus digencarkan meskipun kasus Covid-19 telah menurun. Kaposda BIN Manokwari Selatan, Harry Azhar menyebut program vaksinasi tersebut guna mencegah masuknya varian baru Omicron.
“Binda Papua Barat terus menggencarkan vaksinasi massal. Agar lebih optimal, kami bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat,” ucap Harry Azhar.
Tak hanya di kota-kota besar, vaksinasi yang dilakukan BIN juga menyasar daerah-daerah pelosok. Seperti yang dilakukan Binda Jawa Barat di lima Desa Kecamatan Kelapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
“Perjuangan masih belum berakhir, ikhtiar masih perlu dioptimalkan, dan vaksinasi ini merupakan salah satu ikhtiar kita untuk mengakhiri pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun lebih,” kata Kabinda Jabar, Brigjen TNI Deddy Agus Purwanto.
Tak cuma di daerah-daerah pelosok, vaksinasi BIN juga menjamah wilayah terluar Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan BIN Daerah Kalimatan Utara (Kaltara).
Kepala Binda Kaltara, Brigjen TNI Sulaiman mengatakan, pihaknya telah bersiaga penuh dalam menghadapi potensi masuknya varian Omicron. Oleh karena itu, Binda Kaltara menyasar ratusan masyarakat umum dan pelajar di kawasan perbatasan.
“Kami telah melakukan rapat gabungan dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk antisipasi masyarakat yang masuk dari Tawau, Malaysia, melalui perbatasan,” tutur Sulaiman.
Untuk diketahui, kasus aktif Covid-19 di berbagai provinsi terus menunjukkan penurunan. Meskipun melandai, tercatat ada 6 provinsi yang dalam sepekan terakhir justru mengalami peningkatan kasus.
Berdasarkan data yang dilaporkan Kementerian Kesehatan, ke-6 provinsi yang tercatat mengalami kenaikan adalah Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, NTT, dan Papua Barat.
Meskipun naiknya relatif aman, pemerintah memastikan tidak akan abai. Kenaikan kasus di 6 provinsi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah bahwa perang melawan Covid-19 memang belum tamat. Pemerintah Daerah diminta waspada agar kenaikan tersebut bisa segera dikendalikan.
“Mari kita semua awasi. Tahan kenaikan kasus dengan jaga protokol kesehatan,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, dalam keterangan tertulis, kemarin.
Terakhir, Jhonny mewakili pemerintah meminta masyarakat agar selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan. Dia yakin kedisiplinan masyarakat menjadi hal penting untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus Covid-19 yang lebih tinggi ke depannya.
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan pandemi Corona belum usai. Menurutnya, capaian vaksinasi yang sudah tinggi, tidak lantas membuat pemerintah dan masyarakat abai. Virus Covid-19, kata dia, belum sepenuhnya minggat dari bumi pertiwi.
Dicky menjelaskan, ancaman varian Delta pun sebenarnya belum selesai. Soalnya, ada sekitar 30-40 persen penduduk Indonesia yang belum imun. Entah karena pada usia dewasa capaian target vaksinasi belum tercapai. Serta pada usia anak juga masih banyak yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19.
Selain itu, ada ancaman varian Omicron. Di negara-negara yang terdampak, varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan ini banyak menginfeksi anak-anak.
“Meski survei 80 persen penduduk sudah terinfeksi dan punya antibodi tapi itu tidak menjamin, dengan Omicron bisa terinfeksi lagi,” kata Dicky, melalui pesan suara, kemarin.
Dicky mengungkapkan, jika melihat klasifikasi level transmisi Corona dari WHO, Indonesia sebenarnya masih ada kasus Covid-19 di masyarakat, tapi tidak terdeteksi. Kata dia, angka kasus Covid-19 yang ada saat ini bukanlah yang sesungguhnya terjadi di tengah masyarakat.
“Kasus rendah itu disebabkan testing Covid-19 kita masih rendah, surveilans genomik kita masih rendah,” ungkapnya.
Karena itu, ia meminta selain 3T dan 5M, pemerintah juga mendorong pencapaian target vaksinasi Covid-19. Selain itu kategori kelompok tertentu juga sudah harus mendapatkan vaksin booster.
“Setidaknya 80 persen dari total penduduk harus sudah di vaksinasi dua dosis. Yang kategori usia rawan sudah mendapatkan booster,” jelas Dicky. (http://Rm.id /AY)
RM.id/AY
















Komentar