FILIPINA – Putra mendiang diktator Filipina Ferdinand Marcos, Ferdinand Marcos Jr (Bongbong), unggul telak dalam pemilihan presiden (pilpres) yang berlangsung pada Senin (9/5/22)
Dilansir AFP, berdasarkan penghitungan awal, jumlah suara untuk Marcos Jr jauh di atas saingan terdekatnya, Wakil Presiden Leni Robredo.
Yakni, lebih dari 90 persen surat suara diproses, Marcos Jr telah mengantongi hampir 30 juta suara, lebih dari dua kali lipat dari jumlah suara untuk Robredo yang merupakan mantan pengacara HAM.
Dilansir Inquirer.Net, hasil yang ditunjukkan server Komisi Pemilihan Umum (Comelec) pukul 00:59, dini hari Selasa (10/5), Marcos Jr memimpin dengan 29.795.854 suara.
Diikuti Robredo dengan 14. 209.221 suara. Sementara Senator Manny Pacquiao di posisi ketiga dengan 3.367.693 suara.
Dalam perebutan kursi wakil presiden, Sara Duterte yang merupakan pasangan Marcos Jr unggul dengan 30.065.495 suara. Jauh meninggalkan pasangan Robredo, Francis Pangilinan (Kiko) dengan 8.858.053 suara.
Marcos Jr berterima kasih kepada sukarelawan atas pengorbanan dan pekerjaan mereka selama berbulan-bulan. Namun, dia belum mengklaim kemenangan dan memperingatkan bahwa penghitungan belum selesai.
“Mari kita tunggu sampai sangat jelas, sampai hitungannya mencapai seratus persen baru kita bisa merayakannya,” ujarnya saat menyampaikan pidato dari markas kampanyenya di Manila.
Namun, di luar markas, pendukungnya sudah menyalakan kembang api, mengibarkan bendera nasional dan naik ke mobil yang diparkir untuk meneriakkan kemenangan.
Sebelumnya, Marcos Jr dan calon wakilnya, Sara Duterte, menegaskan mereka adalah orang yang paling sesuai untuk menyatukan Filipina
“Saya harap Anda tidak akan bosan mempercayai kami,” kata Marcos Jr kepada para pendukungnya dalam siaran di Facebook, platform utama kampanyenya.
“Kami memiliki banyak hal yang harus dilakukan,” katanya, menambahkan “usaha sebesar ini tidak melibatkan satu orang”.
Pemilu kali ini diperkirakan diikuti lebih dari 65 juta warga Filipina. Sebanyak sepuluh kandidat maju dalam pemilihan presiden Filipina untuk menggantikan Rodrigo Duterte.
Meski demikian, hanya Marcos Jr dan Robredo memiliki peluang besar untuk menang.
Sebelum pemungutan suara, beberapa aktivis hak asasi manusia, pemimpin gereja Katholik, dan analis politik takut, kemenangan Marcos Jr kembali membawa negara itu ke era rezim diktator ayahnya.
“Kami pikir itu (kemenangan Marcos Jr) bakal memperburuk krisis kemanusiaan di negara ini,” kata Sekretaris Jenderal dari Aliansi Hak Asasi Manusia Karapatan, Cristina Palabay.
Begitu juga dengan analis politik Richard Heydarian memperingatkan, kemenangan Marcos Jr dapat membuat pria itu mengganti dasar hukum untuk memperkuat kekuasaan dan melemahkan demokrasi. (http://rm.id /AY)
















Komentar