oleh

Pidato Mas Margiono di Hari Pers Nasional

Catatan : DR. Ki Rohmad Hadiwijoyo/Dalang Wayang Politik

Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Peringatan tahun ini dipusatkan di Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan tema Sultra Jaya Indonesia Maju. Perayaan HPN tahun ini masih dalam suasana pandemi. Sehingga seluruh kegiatan dan agenda harus mengikuti protokol kesehatan dengan ketat.

Di sisi lain, mengenang Mas Margiono (MG) sebagai ketua PWI dua periode pada 2008-2018. Selama menjabat sebagai ketua PWI, pidatonya selalu ditunggu-tunggu. Selain piawai mengkritik Presiden, yang dikritik tidak merasa dikritik. Itulah kelebihan Mas Margiono yang mampu membuat suasana kongres tidak tegang dan monoton.

Kepergian Mas Margiono minggu lalu, seakan mengingatkan kita semua tentang pentingnya peran pers dalam menyikapi isu-isu global seperti bagaimana menghadapi pandemi.

“Mas MG juga piawai ndalang, Mo,” celetuk Petruk. Romo Semar mesem dan mengangguk. Seperti biasa kopi pahit dan ubi rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Tidak seperti biasanya, naiknya angka korban Covid Omicron membuat waswas Romo Semar.

Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke acara puncak peringatan HPN di Jambi pada 9 Februari 2012. Semar mendalang bersama Ki Margiono, Ki Dahlan Iskan, dan Ki Entus Susmono “kroyokan” membawakan cerita Anoman Duta.

Kocap kacarito, Prabu Rama tidak begitu saja percaya atas informasi dari Jatayu tentang siapa yang menculik Dewi Sinta. Pasalnya burung raksasa atau Jatayu keburu gugur sebelum selesai menyebutkan nama si penculik istrinya tersebut. Jatayu hanya menyebutkan Sinta diculik oleh seorang raksasa dari kerajaan Alengka. Akan tetapi informasi dari Jatayu sangat membantu untuk mencari keberadaan Sinta.

Rama memanggil dua senopati andalan yaitu Anggada dan Anoman untuk mencari informasi keberadaan Dewi Sinta. Kedua senopati diuji dan dites kesaktiannya sebelum dikirim sebagai duta pamungkas. Kepastian siapa penculik Sinta akhirnya terkuak yaitu raja raksasa Rahwana dari kerajaan Alengka.

Untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut maka kedua senopati diberi waktu berapa lama mencapai kerajaan Alengka.Anggada sanggup masuk ke kerajaan Alengka seorang diri untuk mencari keberadaan Dewi Sinta dalam waktu satu bulan.

Waktu satu bulan dirasa terlalu lama untuk tugas seorang senopati. Maka Rama menanyakan kepada Anoman, berapa lama mencari keberadaan Sinta di Alengka. Anoman sanggup dalam waktu satu hari satu malam. Rama setuju dengan waktu yang diminta Anoman. Maka tugas sebagai duta pamungkas diberikan kepada Anoman. Anggada tidak dapat menerima keputusan Rama tersebut.

Anggada marah kepada Anoman. Seolah-olah Anoman merebut tugas yang diberikan prabu Rama. Terjadilah konflik antara Anoman dan Anggada. Dari sisi kesaktian, Anggada masih satu level di bawah Anoman. Walau keduanya sama-sama cucu Resi Gotama. Anggada anak Subali.

Sedangkan Anoman anak Dewi Anjani. Pertengkaran keduanya dapat diselesaikan oleh Sugriwa yang tidak lain adalah paman Anggada dan Anoman. Dan Anoman melesat ke Alengka untuk mencari kebenaran berita si penculik Dewi Sinta.

“Kebenaran sebuah informasi harus di-cross check dengan cepat sebelum menjadi berita, Mo,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar.

“Betul, Tole. Makanya Prabu Rama mengirim Anoman untuk membuktikan kebenaran informasi Sinta. Kecepatan berita menjadi tantangan bagi media konvensional. Selain itu, sustainable media bisa terwujud jika insan pers konsisten menjaga kedaulatan media dalam menghadapi tantangan global media digital,” sahut Semar. Selamat berkongres.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya