oleh

HUT PPNI ke-47, RS Premier Bintaro Apresiasi Perawat Tangguh

BINTARO-Sekitar 300 peserta mengikuti giant webinar yang digelar Rumah Sakit (RS) Premier Bintaro pada Minggu (28/3). Topik yang diangkat yakni, ‘Perawat Tangguh, Indonesia Bebas Covid-19, Masyarakat Sehat’.

Diskusi virtual ini terselenggara berkat kerjasama RS Premier Bintaro dengan IKAMARS, PPNI, RSUP Persahabatan, dan STIKES Pertamedika Jakarta,” jelas Pringgondani, Marketing Manager RS Premier Bintaro

CEO RS Premier Bintaro, Dr. Martha M.L. Siahaan, MARS, MHKes mengatakan, tujuan acara ini adalah dalam rangka memperingati HUT Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang ke-47.

“Selain itu juga untuk memberikan apresiasi, dukungan dan terima kasih kepada para perawat. Mereka merupakan ujung tombak yang senantiasa berjuang selama 24 jam tanpa kenal lelah, meskipun harus mempertaruhkan nyawa, bersama dengan tenaga medis lainnya dalam menghadapi pandemi Covid-19,” ungkap Martha.

Webinar ini menghadirkan beberapa pembicara  berkompeten di bidangnya. Di antaranya Satinah, S.Kep, Ners, M.Kep (Kepala Bidang Keperawatan RSUP Persahabatan Jakarta), Ns. Maryati, S.Kep, S. Sos, MARS (Ketua STIKES Pertamedika Jakarta), Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp. M.App. SC (Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Uniiversitas Indonesia), Rosdelima Simarmata, BN, SE, MARS (Manager Keperawatan RS Premier Bintaro), dan Ns. Evy Ekantiana, S.Kep (Ketua Komite Keperawatan Nurse RS Premier Bintaro).

Menurut Ketua PPNI Pusat, Harif Fadhillah, S.Kp, M.Kep, SH, MH, perawat yang tangguh yaitu perawat yang memiliki kompetensi, spiritual yang tinggi, optimisme dan harapan, serta memiliki sense of humor.

Sedangkan, Kepala Bidang Keperawatan RSUP Persahabatan, Satinah, S.Kep, Ners, M.Kep mengatakan, manajemen fasilitas dan keselamatan penanggulangan bencana terdiri dari mengelola SDM Keperawatan selama kejadian, mengelola kegiatan klinis dan tempat pelayanan alternatif, identifikasi peran dan tugas tanggung jawab staf, mengelola keadaan darurat jika terjadi konflik tanggung jawab pribadi staf dan tanggung jawab rumah sakit.

Sementara, Guru Besar Ilmu Keperawatan Jiwa dan Komunitas Fakultas Keperawatan UI, Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App, Sc. Mengungkapkan, selain menjalani protokol kesehatan yang ketat, apabila perawat memiliki emosi positif, maka dapat meningkatkan endorfin, imunitas dan kepatuhan terhadap perawatan meningkat. “Dengan demikian perawat tersebut tidak akan tertular maupun menularkan,” paparnya.(rls)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya