JAKARTA – Seperti sinetron, perseteruan antara Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar terus berlanjut ke episode-episode yang lebih merenggangkan.
Kali ini, bos NU yang akrab Gus Yahya itu, yang memulai lakonnya. Dalam sebuah video, Gus Yahya bilang begini: “Warga NU wajib bahagia, PKB sekarepmu”.
Sebelumnya, Imin bikin heboh warga dunia maya saat memasang kaos berbunyi begini: “NU struktural wajib ber-PKB, NU kultural sakarepmu”. Apakah ucapan Gus Yahya menyindir kaos yang dipajang Imin? Entah lah…
Video Gus Yahya itu, viral di media sosial, kemarin. Video berdurasi 19 detik itu, salah satunya diunggah oleh pemilik akun Twitter @RiuRizkiUtomo_, Senin (23/5).
Dalam video itu, terlihat Gus Yahya berdiri di atas podium dengan mengenakan baju muslim lengan panjang berwarna putih lengkap dengan peci hitam.
Gus Yahya terlihat sangat santai saat berpidato. Salah satu isi pidatonya sangat menyentil Imin dan PKB.
“Keluarga besar NU wajib berbahagia,” ujar Gus Yahya disambut tepuk tangan tamu yang hadir.
“Kalau PKB, sakarepmu,” sambung mantan Jubir Presiden Gus Dur itu, sambil tertawa. Hadirin tertawa lebih keras.
Hanya segitu, video Gus Yahya yang viral itu, yang kemudian banyak dikomentari dan diupload oleh netizen lainnya.
“Entah maksudnya becanda atau tidak, tapi ucapan Pak Yahya ini asli gak lucu. Kenapa Ketum PBNU sekarang fokus banget serang PKB dan puja puji PDIP?” tulis aktivis muda NU, Umar Hasibuan dalam akun twitter @UmarChealsea.
Keresahan Umar Hasibuan terhadap gerakan Gus Yahya Vs Imin/PKB ini memang sudah jadi tontonan publik saat ini.
Pidato Gus Yahya ini seakan membalas Imin yang sebelumnya sering mengkritik PBNU. Sebelumnya, Imin pernah mengunggah sebuah foto santri memakai kaus bertuliskan ‘Warga NU Kultural Wajib ber-PKB. Struktural, SAKAREPMU!’ pada Senin (16/5).
Kaos yang dipamerkan Imin itu kiriman dari seorang Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon Kiai Imam Jazuli yang belakangan diketahui merupakan pendukung berat PKB. Gara-gara postingan ini, konflik Gus Yahya dan Imin makin panas.
Panasnya hubungan kedua tokoh NU itu berawal saat Gus Yahya meminta agar semua parpol, termasuk PKB, tidak menjadikan NU sebagai alat berkontestasi politik.
Ia juga berpesan, agar tidak lagi menggunakan politik indentitas agama, termasuk NU. Pasalnya, jika terus dijadikan bahan berkompetisi, tentu ke depannya tidak akan baik.
Selanjutnya, Gus Yahya menyatakan tidak percaya dengan pernyataan Imin yang mengklaim dapat dukungan dari massa NU untuk maju Pilpres 2024. Namun, kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ini tak mau ambil pusing dan hanya menunggu bukti klaim tersebut.
Saat ditanya hubungannya dengan PKB? Gus Yahya membantah, dirinya dan PBNU mulai jaga jarak dengan PKB. Selama ini, dirinya tidak pernah membuat pernyataan yang menjurus negatif terhadap PKB.
“Nah, kalau ada yang mengatakan renggang, ya mereka yang merenggangkan dirinya dari NU,” tegas Gus Yahya.
Lalu apa kata PKB? Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid menegaskan, “panas-dingin” hubungan Gus Yahya dengan ketua umumnya hanya nampak di depan publik.
Sebenarnya, hubungan kedua tokoh ini, baik-baik saja. Mengingat keduanya merupakan teman sejak lama.
“Orang yang membaca dari luar akan berkata itu. Kalau di dalam enggak. Pak Muhaimin dengan Gus Yahya itu kan teman baik, seangkatan, enggak ada demam,” ungkap Jazilul.
Setelah kedua pihak saling membuat pernyataan, Jazilul justru bersyukur karena hubungan PKB dan PBNU malah menjadi perbincangan publik. Sehingga, tidak ada persoalan yang berarti.
“Saya senang karena orang melihatnya ada dinamika. Jadi perbincangan. Enggak ada soal,” akunya.
Dia memandang, PBNU tidak sedang menyentil PKB terkait pernyataan NU tidak boleh dijadikan alat politik. Sementara PKB sudah jelas memiliki sejarah dekat dengan PBNU.
“Semua pemimpin PBNU ngomong begitu dari dulu, emang NU itu bukan parpol, tapi melahirkan parpol namanya PKB. Jadi, PKB pasti dukunglah, seperti dengan Ketum PBNU sebelumnya,” cetus Jazilul.
Wakil Ketua MPR ini lantas memberikan sebuah analogi sederhana. “Misalkan PDIP itu NU, enggak mungkin warganya percaya. Golkar itu NU, PKS itu NU, enggak mungkin warganya percaya,” katanya.
Menurutnya, publik bisa melihat dinamika ini sebagai hal yang positif. Semua dapat dilihat dari sejarah partai, kelahiran partai, dan pemimpin-pemimpinnya. Dan terpenting, kata Jazilul, adalah visi politik, karena PKB menjalankan visi politik NU.
Ketua PBNU, Ishfah Abidal Aziz menanggapi pernyataan Jazilul soal PKB sebagai alat politik NU. Menurut dia, pernyataan elite PKB itu keliru. Karena, menurutnya, politik NU merupakan politik kebangsaan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan umat, bukan untuk partai politik tertentu.
Bicara politik NU, Ishfah menyebut, kepentingan NU sangat luas. Contohnya, posisi NU dalam kebijakan pemerintah. NU pasti mengusulkan aturan main yang memberi dampak positif kepada umat, bangsa, dan negara.
Lagi pula, NU tidak bicara soal politik jabatan. “Kalau kemudian diasumsikan bahwa politik lama ini bersifat parsial, soal siapa menjabat posisi apa, itu menjadi sangat kurang tepat,” tandas Ishfah.
Sebab itu, sudah menjadi kebijakan PBNU agar organisasinya tidak masuk ke ranah politik praktis.
“Tidak dibenarkan dalam ber-NU, dalam berorganisasi. Di NU tidak diperbolehkan, tidak dibenarkan masuk ranah politik,” tegas Ishfah. (AY)
Artikel telah tayang di rm.id
















Komentar