JAKARTA – Mantan Direktur WHO Asia Tenggara yang berpengalaman menangani mass gathering, Prof. Tjandra Yoga Aditama menyoroti fenomena mudik tahun ini, yang bakal dilakoni oleh 80-90 juta orang.
Menurutnya, kita perlu menyadari, bahwa masalah kesehatan bukan hanya Covid-19. Apalagi, diperkirakan akan ada 23 juta mobil pribadi dan 17 sepeda motor, yang akan melakukan perjalanan mudik di Pulau Jawa.
Tantangan kesehatan selain Covid-19 pada arus mudik, selalu cukup besar. Dari pengalaman yang ada, setidaknya ada 7 tantangan kesehatan yang patut mendapat perhatian, yaitu:
Kecelakaan lalu lintas
Gangguan kesehatan selama berkendara, termasuk akibat macet yang panjang
Gangguan saluran pencernaan karena konsumsi makanan tidak sehat
Masalah pada anak dan bayi yang ikut mudik
Masalah kesehatan di kampung halaman
Masalah kambuhnya penyakit kronik yang diderita selama perjalanan seperti hipertensi, diabetes melitus, dan asma
Kemungkinan penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan diare. Bukan tidak mungkin pula, ada gangguan seperti hipnotis maupun pembiusan melalui makanan dan minuman.
Terkait hal tersebut, Prof. Tjandra menyampaikan empat tips agar kita dapat melakukan mudik dengan sehat dan aman.
1. Waktu Berangkat Mudik dan Balik
Hindari mudik pada tanggal 28 April malam atau 29 April seharian, karena arus lalu lintas sedang padat-padatnya. Begitu juga halnya pada arus balik di akhir libur bersama. Sebaiknya, hindari perjalanan tanggal 8 Mei 2022 di hari terakhir libur bersama.
2. Berkendara Dalam Kondisi Sehat dan Bugar
Jika Anda masih kerja sampai tanggal 28 April, sebaiknya jangan langsung berkendara ke kampung halaman, begitu Anda selesai kerja.
Sebelum berangkat, periksalah dan pastikan kondisi kendaraan Anda dalam keadaan laik untuk dipakai sekian puluh atau ratus kilometer.
3. Jaga Kondisi Selama Dalam Perjalanan
Berikut lima hal yang harus diperhatikan, dalam menjaga kondisi di sepanjang perjalanan:
a. Kalau lelah dalam perjalanan, segera istirahat. Sebaiknya, Anda beristirahat setiap 4 jam berkendara, baik roda 4 atau roda 2.
b. Bila selama dalam perjalanan ada keluhan sakit, maka segera berobat ke Pos Kesehatan, Puskesmas dan Rumah Sakit di sepanjang jalur arus mudik, yang tentunya sudah disediakan pemerintah.
c. Selalu menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi dalam perjalanan mudik. Jangan jajan sembarangan.
“Sebaiknya, selama perjalanan, Anda tidak mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam. Atau setidaknya, menghindari makanan dan minuman yang mudah mengiritasi saluran cerna kita,” ujar Prof. Tjandra.
“Jangan mau menerima begitu saja minuman dan makanan dari orang yang tidak dikenal,” imbuhnyad. Selalu menjaga kebersihan lingkungan. Jangan buang sampah sembarangan.
e. Senantiasa mematuhi rambu lalu lintas dan arahan petugas.
Pengendara sepeda motor harus menggunakan helm. Pengendara mobil harus memasang seat belt saat berkendara, demi keamanan dan keselamatan selama perjalanan.
3. Bawalah obat-obatan yang diperlukan selama perjalanan
Prof. Tjandra menjelaskan, obat-obatan yang diperlukan selama perjalanan, setidaknya terdiri dari 2 kategori. Pertama, obat yang memang rutin dikonsumsi untuk penyakit kronik yang memang sudah ada.
Misalnya saja, obat tekanan darah tinggi, diabetes melitus, dan sebagainya.
Kedua, obat emergency yang diperlukan. Contohnya, obat demam, mual, sakit perut dan sebagaihya.
4. Harus ekstra persiapan, jika Anda membawa bayi atau anak
Prof. Tjandra yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI ini menyarankan para pemudik, untuk memperhatikan tiga hal penting, jika membawa bayi atau anak dalam perjalanan pulang kampung.
Pertama, jangan lupa membawa bekal yang cukup untuk anak-anak. Termasuk, antisipasi kalau-kalau terkena kemacetan panjang.
Siapkan mainan yang disukai anak, untuk menemaninya sepanjang perjalanan.
Jangan lupa membawa perlengkapan dan kebutuhan dasar bagi mereka seperti popok, bedak, bantal, makanan bayi/ anak, dan sebagainya.
“Sebagai edukasi, jelaskan pada anak ciri khas mengenai kota-kota yang dilalui,” kata Prof. Tjandra.
Kedua, sebaiknya jangan membawa anak mudik dengan sepeda motor. Apalagi untuk perjalanan jauh, karena sangat melelahkan untuk anak. Bahkan mungkin, tidak terlalu aman.
“Ketiga, apabila anak ikut mudik dengan menggunakan angkutan umum, upayakan agar tidak ikut berdesak-desakan,” pungkas mantan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, yang antara lain menangani aspek kesehatan mudik sebelum pandemi. (RM.id/AY)
















Komentar