PAMULANG, Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangerang Selatan ditunjuk menjadi tim pendamping seluruh rumah sakit swasta se-Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang dalam upaya meningkatkan keselamatan ibu hamil (maternal) dan bayi baru lahir (neonatal).
Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU Tangsel dr. Taupik Dipa Sempana mengatakan, kali ini RSU Tangsel ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan untuk menjadi mentor dalam kegiatan pendampingan tersebut.
Kegiatan lokakarya pendampingan rumah sakit swasta se-Tangsel dan Kabupaten Tangerang ini, dilaksanakan di RSU Kota Tangsel, Rabu, (25/1/2022).
“Jadi sebenarnya kegiatan ini dari kemarin. Kita menjadi mentor tentang sistem maternal dan neonatal. Maternal itu adalah proses kelahiran dan persalinan, sedangkan neonatal adalah bayi baru lahir,” jelas dokter Taupik dalam kegiatan tersebut.
Dalam kegiatan ini, pihaknya bertanggungjawab untuk mementori para peserta dalam pelatihan yang bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi.
“Peserta untuk saat ini kita ada delapan rumah sakit swasta. Jadi kita mengajari Simatneo (sistem aplikasi) ini tadi di aplikasikan ya dan dilakukan,” imbuhnya.

Program ini, akan terus berjalan selama lima tahun tahun ke depan. Tujuannya guna menekan angka kematian ibu dan bayi saat proses kelahiran.
“Jadi kita penanggungjawabnya. Jadi ini programnya USAID, ada lima tahun secara bertahap. Sehingga kematian bayi dan ibu akibat persalinan di Tangsel bisa dikurangi,” jelasnya.
Setelah pelatihan ini berjalan, delapan peserta rumah sakit swasta ini diwajibkan untuk membagikan pengetahuannya ini kepada rumah sakit lain yang tak mendapatkan pelatihan ini.
“Mereka sistemnya seperti kayak transfer of knowledge, kita di transfer oleh USAID ini, nanti kita diwajibkan mentransfer ke 8 RS Swasta ini mungkin nanti ada lagi mentransfer terus lainnya yang belum. Tapi pendampingan memang langsung, kitab akan didampingi terus selama 5 tahun ini termasuk kita sebagaimana didampingi oleh USAID,” terangnya.
Dokter Taupik menjelaskan, salah satu pelatihan yang diberikan dalam kegiatan ini, adalah penanganan kegawatdaruratan kerja dalam menghadapi proses persalinan.
“Apa yang kita dapat di sini kita akan sampaikan juga ke rumah sakit yang menjadi sasaran kita, salah satu contoh misalnya untuk bidan. Bidan bagaimana sih cara menangani kegawatdaruratan kerja? Bagaimana menangani sebelum sampai ke tangan dokter, pelatihan-pelatihan seperti itu. Kemudian cara penatalaksanaan ruangannya seperti apa,” tandasnya. (Adv)
















Komentar