oleh

Masyarakat Tetap Padati Tempat Wisata

JAKARTA – Pemerintah sudah jauh-jauh hari menghimbau masyarakat untik tidak liburan di momen libur Natal dan Tahun Baru. Apalagi, virus Corona varian Omicron sudah masuk ke Tanah Air.

Namun, kalau urusan liburan, rakyat memang susah untuk dilarang-larang. Terbukti, jutaan orang pergi tinggalkan Jakarta untuk berliburan.

Sampai kemarin, warga yang pergi tinggalkan Jakarta lewat jalur darat saja, sudah mencapai 1,2 juta orang. Data ini terpantau dari banyaknya kendaraan yang lewat jalur Cikampek dari arah Jakarta.

Total kendaraan yang keluar dari Jabodetabek merupakan angka kumulatif arus lalu lintas (lalin) dari empat gerbang tol (GT) utama.

“Total volume lalin yang meninggalkan wilayah Jabodetabek ini naik 7,6 persen jika dibandingkan lalin normal periode November 2021 dengan total 1.186.349 kendaraan,” kata Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga, Dwimawan Heru dalam keterangan resmi, kemarin.

Mereka meninggalkan Jakarta untuk menuju tiga lokasi. Yaitu terdapat 587.503 kendaraan menuju arah timur, 398.923 kendaraan menuju arah barat, dan 289.582 kendaraan menuju arah selatan.

Selain dengan kendaraan pribadi, warga yang pergi ke luar kota dengan kereta api juga meningkat selama Nataru ini. KAI Daop 1 mencatat jumlah keberangkatan penumpang di Stasiun Pasar Senen mencapai 7.800 orang dengan 21 perjalanan kereta api.

Sementara di Stasiun Gambir, keberangkatan penumpang mencapai 6.600 orang dengan 29 perjalanan kereta api.

Melihat jumlah kenaikan penumpang, pihak KAI menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sejumlah petugas keamanan disiagakan. Mereka berjaga dari mulai pintu masuk stasiun hingga pos pemeriksaan rapid tes antigen.

Selain bentuk pengamanan dari tindakan kriminal, petugas juga harus mengawasi prokes penumpang dan mengecek kelengkapan dokumen perjalanan.

Di bandara lebih parah lagi. Kemarin, PT Angkasa Pura II (Persero) mencatat, sebanyak 70.000 hingga 90.000 calon penumpang padati Bandara Soekarno Hatta. Mayoritas, penerbangan domestik dari dan ke Jawa serta Bali.

“Untuk penerbangan sendiri sebagai gambaran di bandara Soekarno-Hatta masih dinamis. Sekitar 70.000-90.000 penumpang perharinya dengan pergerakan pesawat 500-650an perharinya,” ujar Vice President Coorporate Communication AP II, Yado Yarismano.

Jika dibanding Natal tahun 2020 lalu, untuk pergerakan pesawat cenderung sama dikarenakan masih di situasi pandemi.

“Jadi karena masih pandemi untuk jumlah pesawat sendiri kurang lebih sama. Tapi untuk penumpang sendiri tingkat keterisiannya lebih baik dari tahun lalu,” urainya.

Namun, lalu lintas orang yang ke luar kota dengan menggunakan bus, justru relatif sedikit. Di Terminal Kampung Rambutan dan Terminal Terpadu Pulogebang, jumlah penumpang masih relatif normal. Kalaupun ada kenaikan, hanya sekitar 30 persen dibanding hari biasa.

“Untuk penumpang masih landai. Kalaupun terjadi peningkatan, itu hanya Kamis (24/12). Tapi peningkatannya sedikit dari 600 penumpang menjadi 700-an penumpang. Itu artinya peningkatannya relatif sedikit,” sebut Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo.

Selain lewat darat dan udara, warga yang pergi tinggalkan Ibu Kota juga padat lewat jalur laut. PT ASDP Indonesia Ferry menghitung penumpukan penumpang di pelabuhan telah terjadi dari seminggu yang lalu.

ASDP telah menyeberangkan lebih dari 248.000 orang dan 58.000 unit kendaraan dari Jawa menuju Sumatera, melalui lintasan tersibuk Merak-Bakauheni.

Lantas kemana saja orang itu pergi? Di berbagai daerah yang selama ini jadi lokasi tujuan wisata, tercatat terjadi peningkatan. Di Bali, sejak 1 pekan lalu, sudah banyak wisatawan lokal yang datang untuk berlibur.

“Tadi laporan dari Kepala Terminal mengatakan, enam hari ini atau satu minggu ini ada peningkatkan dibanding tahun lalu. Tahun lalu itu bahkan terjadi peningkatan 200 persen kedatangan,” ucap Kapolda Bali Irjen Putu Jayan Danu Putera.

Peningkatan kedatangan wisatawan domestik juga terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu lintas pesawat dan penumpang di Bandara Adisutjipto DIY mengalami peningkatan selama Nataru. Rata-rata penumpang harian meningkat 20 persen dibanding biasa.

General Manager Bandara Adisutjipto Yogyakarta Agus Pandu Purnama mengatakan sampai dengan tanggal 23 Desember, Bandara Adisutjipto mencatatkan 21.000 penumpang.

Hal tersebut merupakan peningkatan jika dibandingkan keseluruhan bulan November yaitu 22.000 penumpang.

“Sehingga selama bulan Desember ini terdapat peningkatan sekitar 20 persen untuk rata-rata jumlah penumpang harian,” kata Agus.

Tak hanya di luar kota, tempat wisata di Ibu Kota di libur Natal ini juga padat. Di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, warga yang datang untuk liburan sudah mencapai 9.879 orang.

Itu pun, data yang tercatat pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB.

Di Ancol, antusias warga yang datang liburan juga cukup padat.

“Per jam 12 sudah ada sekitar 14 ribu pengunjung Ancol. Jumlah ini masih di bawah 25 persen dari kapasitas,” imbuh Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol, Ariyadi Eko Nugroho, kemarin.

Di Puncak, Bogor, lebih rame lagi. Bahkan hampir seluruh hotel berbintang di kawasan Puncak sudah penuh diisi wisatawan.

Kabar ini disampaikan Wakil PHRI Kabupaten Bogor Boboy Ruswanto.

“Sejauh ini untuk beberapa hotel besar klasifikasi bintang sudah penuh sesuai kapasitas maksimal PPKM level 2 yaitu 50 persen,” cetus Boboy.

Menanggapi antusias warga yang liburan di tengah ancaman Omicron, diakui Tenaga Ahli Utama Deputi III Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden (KSP), Edy Priono.

Namun, kata dia, jumlah warga yang liburan saat Nataru kali ini masih terbilang normal.

“Naiknya hanya sekitar 7,6 persen,” kata Edy kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Justru hal positifnya, kata Edy, menunjukkan ekonomi Indonesia sudah jauh lebih positif. Semua indikator perekonomian memang menunjukkan hal itu. Tapi, pemerintah tetap fokus memperhatikan aspek kesehatan

“Langkah pemerintah dalam melakukan pengendalian adalah bukan dengan penyekatan, tapi persyaratan perjalanan yang ketat,” tutur dia.

Karena itu, diharapkan ada keseimbangan antara aspek ekonomi dengan kesehatan.

“Pemerintah ingin ekonomi pulih, dan pada saat yang sama juga ingin masyarakat tetap sehat. Makanya yang melakukan perjalanan jauh harus sudah divaksin lengkap dan menunjukkan hasil tes negatif,” tukas Edy

Di sisi lain, Ketua bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane tidak heran dengan hasrat rakyat Indonesia yang bergerak menuju tempat wisata di libur Natal.

“Bukannya sudah tiga bulan semua penuh. Mudah-mudahan bisa terus terkendali sepanjang Omicron dan AY4.2 tidak bertransmisi di komunitas,” pungkas Masdalina. (RM.id/AY)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya