JAKARTA – Kapan serangan Omicron mencapai puncaknya dan kemudian melandai, belum bisa diprediksi para epidemiolog. Ini terlihat dari angka positif Covid harian yang masih naik turun selama sepekan terakhir. Sempat turun ke 30 ribuan, tetapi kemudian naik lagi ke 60 ribuan dan Jumat (25/2) kemarin turun lagi ke angka 49.447 kasus.
Begitu pula mengenai jumlah pasien Covid yang meninggal dunia, juga masih berfluktuasi antara 150 hingga 300 orang per hari.
Menurut catatan, lebih dari 65 persen pasien Covid yang bergejala berat dan meninggal dunia adalah lansia dan mereka yang punya komorbid, terutama diabetes dan darah tinggi. Kemudian, mereka yang belum divaksinasi.
Untuk menekan angka kematian, ke depan ini kita berharap, lansia atau mereka yang punya komorbid kalau terpapar Omicron langsung dirawat di rumah sakit rujukan Covid.
Apalagi tingkat keterisian rumah sakit masih relatif rendah, yaitu rata-rata di bawah 40 persen. Artinya, ruang rawat yang masih kosong bisa diisi pasien Covid lansia dengan gejala ringan tapi punya komorbid.
Kita berharap, pihak dinas kesehatan provinsi, kabupaten, kota dan puskesmas terus memantau pasien Covid lansia, terutama yang punya komorbid. Apakah mereka positif Covid tanpa gejala (OTG), bergejala ringan atau bergejala sedang.
Mereka yang OTG boleh isolasi mandiri, tapi yang bergejala ringan dan sedang mesti dirawat di rumah sakit supaya kondisinya tidak memburuk.
Oleh karena itu, kita berharap rumah sakit rujukan Covid segera memanggil kembali tenaga kesehatan terampil yang pernah direkrut Mei 2020 lalu.
Sehingga begitu orang-orang yang punya komorbid terpapar Covid, bisa langsung masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan terbaik.
Kita juga berharap vaksinasi penguat atau booster untuk lansia dan orang-orang yang punya komorbid dipercepat. Sebab, setelah mendapatkan booster, lansia dan mereka yang punya komorbid akan mampu melawan serangan Omicron. ( Kiki Iswara Darmayana / http://rm.id)
















Komentar