JAKARTA – Kisah tentang Mbak Rara, penakluk hujan di Mandalika masih jadi perbincangan. Pawang ini namanya terus menjadi trending topic di jejaring media sosial.
Pemilik nama lengkap Rara Istiani Wulandari itu berada di Mandalika selama perhelatan MotoGP. Dia “bekerja” 21 hari. Itu artinya bukan hanya pada hari H saja, yaitu Minggu 20 Maret 2022. Tapi, sejak akhir Februari lalu.
Mbak Rara “mengendalikan” hujan, sejak proses pengaspalan landasan sirkuit. Bahkan, dia sering diajak turun oleh tim pengaspalan sirkuit.
“Rara ini selalu ikut, kalau bos-bos yang ngurus aspal sirkuit turun ke lapangan. Padahal mereka ini kelompok teknisi dan insinyur yang sangat scientific, dengan keilmuan tinggi,” kata seorang bos, di internal event MotoGP.
Misalnya, setelah sirkuit dilapis aspal, yang dibutuhkan adalah cuaca yang panas, terik matahari, agar aspal cepat mengering.
Lalu beberapa hari kemudian, perlu hujan agar kondisi aspal tidak terlalu panas. Dan semua itu membutuhkan cuaca yang mendukung.
Mbak Rara, saat itu membantu melalui kendali hujan.
“Dia seperti punya remote control di tangannya. Hujan bisa dipindahkan ke tempat lain, atau diatur besar kecilnya,” kata dia.
Petinggi Dorna sampai terheran-heran dengan kemampuan itu. Tapi itulah, percaya tak percaya, ada kearifan lokal yang bekerja di Mandalika.
Makanya, meski tak masuk logika sains, Dorna mengikutkan Rara wara wiri di timnya.
Dorna Sports adalah pemegang hal komersial, perhelatan MotoGP dunia. Di area sirkuit, Dorna adalah penguasanya.
Yang jadi pertanyaan banyak orang, kok bisa saat perhelatan tiba-tiba hujan? Apakah pawangnya gagal?
Sehari sebelum pertandingan, suhu aspal sirkuit sangat panas. Kisarannya 45-57 derajat Celcius. Karena panasnya, sampai-sampai penyelenggara pertandingan mengurangi jumlah lap yang dilalui rider.
Dari biasanya 23-24 lap, diturunkan ke 16. Terlalu lama landasan dipakai, aspalnya bisa makin panas dan berbahaya bagi rider.Sehari sebelum pertandingan MotoGP, Mbak Rara sempat dipesan, agar hujan bisa turun rintik-rintik di hari H. Harapannya, mengurangi cuaca panas dan menurunkan suhu aspal.
Benar saja, tepat sebelum pertandingan utama MotoGP, hujan turun, tetapi rupanya tak disangka berlangsung lebih lama dan lebih deras dari yang diprediksi.
Saat hujan tak kunjung reda itulah, Bos Dorna kabarnya mencari-cari perempuan kelahiran Papua, 22 Oktober 1983. Dan memintanya melakukan ritual. Tak disangka, beberapa menit kemudian, ternyata hujan mereda.
“It worked,” cuit akun MotoGP.
Bagi sebagian orang, aksi Mbak Rara dikatagorikan sebagai klenik, mistik, dukun dan sihir. Orang yang lebih religius bahkan menyebut musyrik, haram dan sebagainya.
Tapi, di luar penilaian itu, Mbak Rara telah menyajikan sebuah hiburan.
MotoGP dan Dorna rupanya pun paham betul soal itu. Di tengah puluhan juta penggemar motor Indonesia, di tengah derasnya hujan di landasan sirkuit, aksi Mbak Rara seperti menghilangkan kepenatan dan kekecewaan karena menunggu pertandingan.
Bahkan secara khusus, MotoGP memotret dan memposting ritual Mba Rara itu di akun Instagram dan Twitter-nya.
Tentu banyak sekali reaksi. Yang paham dunia klenik bisa saja menganggap, kemampuan Rara dianggap tak mumpuni.
Pekerjaan pawang biasanya dilakukan pra event dan bersifat tertutup, rahasia, tak seorang pun tahu.
Mbak Rara sebaliknya. Cara kerja dia menerobos batas-batas kebiasaan. Terbuka, dipublikasikan. Bahkan dia tak segan diwawancarai dan membeberkan semua ritual dan caranya. Juga bayarannya.
“Saya dibayar 3 digit,” kata Rara.
Seorang di internal event menyebut, tarif Rara adalah Rp 5 juta per hari. Jadi kalau ditotal 21 hari kerja, berarti sekitar Rp 100 jutaan yang dia terima.
Ada yang mengkaitkan aksi Rara dengan penilaian bahwa pemerintah percaya klenik. Ya, sah-sah saja. Tapi, jangan lupa, lebih banyak penonton bahkan rider yang merasa terhibur dengan itu.
Paddock adalah area yang sangat steril. Hanya Dorna yang bisa memutuskan, siapa boleh masuk ke area itu.
Sekelas Dirut BUMN saja butuh izin khusus untuk masuk ke situ, apalagi kelas orang biasa.
Sesungguhnya, saat Mbak Rara masuk dan beraksi menghalau hujan, orang-orang pemerintah justru keheranan.
“Kok bisa, Rara masuk ke situ? Siapa yang izinkan?” Nah, sekarang terjawab kan. (Ratna Susilowati)
















Komentar