JAKARTA – Budaya reaktif juga selalu menunggu segalanya terjadi kepada diri mereka. Ia tidak terbiasa mengambil inisiatif atau berfikir lain dari skema kehidupan yang sudah dipermanenkan di dalam dirinya.
Akibatnya, hampir tidak terjadi perubahan berarti di dalam hidupnya dalam arti positif. Ia berubah jika memang secara alamiah betul-betul perlu dan mendesak.
Ia mudah takluk kalau dapat tekanan dari orang lain. Ia seperti tidak punya daya saing dan daya juang untuk sesuatu yang lebih tinggi. Ia kalah duluan sebelum bertanding.
Dalam pergaulan sehari-hari, ia selalu diwarnai dengan perasaan depresi dan rendah diri. Ia gampang putus asa, meskipun sering mendengarkan ayat: Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az-Zumar/ 39:53).
Budaya reaktif juga terlalu menghawatirkan apa kata orang terhadap dirinya, sangat sensitive terhadap setiap perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Ia juga bersikap sombong untuk menutupi perasaannya yang fluktuatif, tidak menentu, dan tenteram. Ia suka sekali berkamuflase, memuji diri, atau menunjuk kelebihan anggota keluarga dekatnya.
Orang ini perlu diwaspadai karena gampang melakukan jalan pitas dengan berbagai cara, termasuk mengkonsumsi obat-obat penenang dan obat-obat terlarang, seperti narkoba.
Bahkan bisa nekad dengan bunuh diri atau membunuh orang lain. Ia mudah cemburu jika orang-orang terdekatnya sukses, suka melanggar kommitmen, lebih tertarik mengurus dirinya sendiri dan tidak mau share dengan orang lain.
Ia sering bersikap tidak jujur pada dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain. Ia selalu menyalahkan orang lain sekalipun nyata-nyata ia yang salah.
Sering ia mengucapkan katakata sembrono dan tidak sesnono, walaupun ia menyadari dan menyesali sendiri. Mereka menunggu segalanya berubah untuk dirinya, bukan bagaimana dirinya mengubah segalanya. Orang-orang reaktif sulit menjadi tokoh masyarakat ideal. (http://rm.id /AY)
















Komentar