oleh

Supaya Bisa Belajar Daring, Bocah Ini Dagang Telur Demi Kuota Internet

SERPONG UTARA-Angga Purnama Alamsyah (15), setiap hari berjualan telur ayam kampung di kawasan Alam Sutera, Serpong Utara. Tepatnya, di depan salah satu restoran. Dia berharap pembeli menghampiri dan membeli beberapa butir telur.

Ayah Angga hanya seorang kuli panggul, dan ibunya merupakan buruh cuci. Angga pun harus berkeliling dari rumahnya di Serpong untuk menjual telur asin yang ia dapatkan dari teman ibunya itu. Saat berjualan, Angga membawa tiga kantong plastik berisi puluhan telur. Setiap satu plastik ada 25 butir telur ayam kampung dan dijual seharga Rp 100 ribu.

Tidak hanya sekadar untuk membantu orangtua, uang yang ia dapatkan dari berjualan telur itu juga untuk dibelikan kuota internet. Dimana saat ini setiap pelajar masih belajar sistem daring di rumah. Sehingga Angga pun mau tidak mau harus mencari uang agar mampu membli kuota internet, agar tetap bias bersekolah.

“Soalnya kan beli kuota internet itu mahal juga. Jadi aku harus cari uang sendiri biar bisa ikut sekolah. Aku takut nanti kalau gak ikut sekolah online nilainya jelek,” terang Angga, murid kelas 8 SMP ini.

Agar telur ayam kampung dagangnnya ada yang membeli, Angga tidak bisa tinggal diam. Dia menawari setiap ada pengunjung restoran yang masuk ataupun keluar yang rata-rata bermobil. Sesekali, ada pengunjung yang berempati menanyakan harga, tapi belum tentu membeli.

Sehari-harinya, dia mengaku, jika beruntung ada 10-11 kantong telur yang bisa terjual. Terkadang, ada pembeli yang baik hati memberikan uang lebih untuk dirinya. Tak jarang, telur yang dia jual ada yang pecah? karena berbenturan saat mengejar pembeli. Akibatnya, dia harus menggantinya dengan uang lebihan yang didapatnya.

“Biasanya kejual 10-11 kantong. Uangnya langsung dikasihin ke orangtua aja, biar nggak boros. Jualannya susah sih, kadang ada telur yang pecah tiga butir dan harus diganti pakai uang yang dikasih pembeli. Kadang dikasih Rp 10 ribu, Rp 20 ribu,” papar Angga yang tiba-tiba sedih dan menitikan air mata.

Sambil memegangi plastik berisi telur, dia mengusap air mata yang perlahan menetes. Dengan mata berkaca-kaca, Angga kembali mencegat pengunjung menawari telur ayam kampung dagangannya.(dra)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya