oleh

Pelatihan Eco-Enzim di UIN Jakarta Secara Virtual

CIPUTAT-Apa itu eco-enzim? Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta salah satu dari 11 kampus di Indonesia bergerak sebagai kampus hijau yang mengolah limbah jadi eco-enzim. Melalui webinar pelatihan eco-enzim untuk kampus yang berkelanjutan dan lingkungan, UIN Jakarta bekerjasama dengan UI Green Metric menggelar pelatihan secara virtual, Kamis (19/8).

Menurut Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, UIN Jakarta berupaya untuk mencapai predikat kampus hijau serta mengembangkan eco-enzim dalam membantu melestarikan lingkungan hidup.

“Dalam rangka mencapai UIN Jakarta sebagai Green Campus, sebagai kampus yang memperhatikan lingkungan, dan terlebih juga perhatian kita terhadap eco-enzim. Mengenai pengaruh dan perannya dalam melestarikan lingkungan hidup, kita perlu mengenal eco-enzim ini, karena dapat menyehatkan air, dan menyuburkan ekosistem yang ada,” ucap Amany Lubis.

Bekerjasama dengan berbagai pihak, UIN Jakarta dan UI Green Metric terus berupaya inisiatif dan berinovasi untuk terus menjaga dan melestarikan lingkungan dari limbah serta menyelamatkan bumi dari kerusakan.

“Alhamdulillah UIN Jakarta terus ikut berpartisipasi untuk menyelamatkan bumi melalui UIGM. Tujuannya untuk mengelola sampah organik di kampus. Insyaallah kegiatan eco-enzim ini bisa sukses, dan menyelamatkan bumi dengan berkarya, dengan berbagai inovasi, dan insyallah UIN Jakarta hadir bersama TIM Eco-Enzyme UI Green Metric,” ujar Lily Surayya, Koordinator Kampus Hijau UIN Jakarta.

Banyak manfaat dari eco-enzim, di antaranya dapat dijadikan sebagai bahan pembersih lantai, bahan pembersih kaca, biodesinfektan atau antiseptik alami, pembersih toilet dan pengendalian kualitas air.

Lantas bagaimana membuatnya? Tidak sulit untuk membuat eco-enzim. Terbuat dari cairan gula merah, air dan memanfaatkan limbah kulit buah maupun sayuran sebagai campurannya. Kemudian difermentasi selama tiga bulan atau lebih.

“Kita memanfaatkan sampah dari kantin, sampah limbah kulit buah dimanfaatkan menjadi eco-enzim. Di USU fokus memanfaatkan limbah dari kulit nanas, pepaya dan pisang. Kulit pepaya sangat kaya akan kandungan enzim,” ujar Nurzainah Ginting, Peneliti Eco-Enzyme Universitas Sumatera Utara (USU).

Ia juga mengajak kepada masyarakat untuk ikut serta memanfaatkan eco-enzim dalam kehidupan. “Kami mencoba memanfaatkan eco-enzim ini semaksimal mungkin di kampus, kami memanfaatkan secara penuh. Kami juga mengajak kepada masyarakat untuk memanfaatkan eco-enzim, dengan manfaatkan limbah kulit buah. Mari kita memanfaatkan seluas-luasnya,” ujarnya.

Sementara, menurut Dinda Rama Haribowo, Peneliti Eco-Enzyme UIN Jakarta,, eco-enzim memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Di UIN Jakarta bahan baku yang digunakan berasal dari sisa tanaman jagung, kulit jeruk, sawi dan kol. Eco-enzim ini sangat potensial untuk memperbaiki kualitas air.

“Jadi secara pemanfaatan, eco-enzim sangat potensial untuk memperbaiki kualitas perairan,” kata Dinda Rama Haribowo.

Di lain hal, dalam rangka upaya menjaga dan memperbaiki kualitas perairan, UIN Jakarta telah melakukan kegiatan penggelontoran eco-enzim pada lima titik di Situ Gintung, Ciputat Timur, beberapa bulan lalu.

Selain itu, guna mendukung program kampus hijau, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta melalui Bidang Lingkungan Hidup, menggagas Sekolah Lingkungan. Dimana mahasiswa dapat berperan aktif dalam upaya untuk melestarikan lingkungan.

Di Sekolah Lingkungan ini pula terdapat Tim Eco-Enzyme dan Tim Bank Sampah yang juga berfokus untuk menjaga kelestarian lingkungan di UIN Jakarta. (mg1/Hadid)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya