JAKARTA – Salah satu wujud impersonal teachers di dalam Al-Qur’an ialah burung gagak.
Di dalam Al-Qur’an diceritakan ketika Qabil, salahseorang putra Adam, dibakar api cemburu, karena pasangan yang seharusnya dikawini kebetulan tidak cantik dan qurbannya ditolak, sementara gadis pasangan nikah Habil cantik dan qurbannya diterima, maka Qabil membunuh saudaranya sendiri.
Setelah Habil mati dibunuhnya, maka ia kebingungan ditambah dengan penyesalan yang amat mendalam, akan diapakan saudaranya yang baru saja dibunuh itu?
Dalam suasana kebingungan itu, maka Tuhan mendatangkan seekor burung gagak (al-gurab) untuk mengajari bagaimana menguburkan mayat saudaranya yang sekaligus orang yang taat kepada Tuhan itu.
“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil:
“Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” (Q.S. Al-Maidah/5:31).
Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.
Penyesalan selalu datang terlambat dan perbuatan dosa pasti selalu menyiksa dan membuat gelisah.
Keadaan seperti inilah yang dialami Qabil setelah membunuh saudaranya, Habil, yang merupakan pembunuhan pertama jenis manusia di muka bumi ini. Karena itu, Habil dikecam dalam Al-Qur’an:
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-Maidah/5:30).
Kehadiran burung gagak menginspirasi Qabil untuk melakukan sesuatu yang bersifat lebih manusiawi kepadanya. Ia bertambah malu karena ternyata yang mengajarinya kearifan adalah seekor burung.
Benar firman Allah bahwa terkadang manusia lebih hina daripada binatang (asfala safilin), meskipun manusia juga terkadang lebih mulia dari Malaikat (ahsan taqwim). Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. Al-A’raf/7:179)
Dari kisah tersebut di atas dapat difahami bahwa Qabil mendapatkan pelajaran atau inspirasi dari burung gagak untuk menyelesaikan problem yang sedang dihadapinya.
Seperti kita tahu bahwa usia binatang dan burung-burung lebih tua dari usia manusia.
Wajar jika pengalaman makhluk yang lebih tua memberikan pengalaman kepada makhluk lain yang lebih muda. (http://rm.id /AY)
















Komentar