oleh

Bangsa Yang Kehilangan Inti

JAKARTA – Ada artis tidak bisa mengupas salak, jadi heboh. Urusan kaos oblong, juga ramai. Para politisi yang melakukan lobi-lobi, ketika ditanya, jawabannya “hanya ngomongin soto ayam”.

Dalam kadar tertentu, bangsa ini telah kehilangan substansi, inti, akar masalah, sehingga urusan remeh temeh menjadi penting, dan urusan penting jadi remeh temeh.

Fenomena ini sudah berlangsung cukup lama. Dari pemilu ke pemilu, isu-isu “ringan dan lucu” selalu mewarnai atmosfer politik Indonesia.

Yang menonjol bukan substansinya, tapi ribut-ribut soal pakai jas atau kemeja, salam satu jari atau dua jari, tempe setipis ATM, cara duduk atau posisi berdiri dan sebagainya.

Ketika isu-isu ringan tersebut mewarnai panggung politik, isu-isu strategis bisa terabaikan. Fokus pun teralihkan. Prioritas bisa berantakan. Yang tidak penting dikedepankan-yang penting, diabaikan.

Akibatnya, pihak-pihak tertentu yang punya misi terselubung, cukup melempar isu ringan, ditangkap masyarakat, dibicarakan berhari-hari: misi sukses. Apalagi publik sangat mudah dialihkan fokusnya, dikesampingkan prioritas 

Darimana fenomena ini berasal? Seperti lingkaran setan. Setiap pemilu, tim kampanye yang paham psikologi publik seperti ini, memanfaatkannya dengan baik. Digoreng berhari-hari untuk menarik perhatian pemilih. Isu-isu ringan ini dipupuk terus untuk menjual calon yang didukungnya atau membenci lawannya.

Benih ini tumbuh subur dari waktu ke waktu.Para elit politik juga kerap “mengajarkan” hal seperti ini. Dalam setiap kampanye, yang menonjol justru saling sindir, perang kata-kata atau istilah. Minim substansi dan dangkal gagasan. Kalau pun berbeda gagasan, pada akhirnya mereka berkompromi.

Ketika musim politik tiba, yang menonjol justru bendera partai yang berkibar-kibar di sepanjang jalan, yang dipasang dengan bambu yang diikat asal-asalan. Atau, foto si calon dengan identitas keagamaan yang khusyuk dengan senyum manisnya. Kalau perlu fotonya diedit, tak peduli foto itu berbeda dengan aslinya.

Pola ini tidak membangun ekosistem demokrasi yang baik dan sehat. Pertanyaannya: sampai kapan atmosfer politik diwarnai dengan diksi-diksi “politik sontoloyo, politik genderuwo”, atau urusan jas dan kemeja serta perang baliho di segala penjuru?

Elit politik mestinya menjadi bagian penting dalam pendidikan politik. Jangan justru memanfaatkan keluguan publik untuk kepentingan sesaat.

Isu pemberantasan korupsi, lingkungan hidup, polarisasi, pemulihan ekonomi serta nasib generasi yang hilang akibat Covid, jauh lebih penting dibanding urusan kaos oblong, memasak nasi goreng, atau diplomasi soto ayam. (SUP/AY)

Artikel telah tayang di rm.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya