CIPUTAT, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Tangerang Selatan tidak terima lantaran ada salah satu wilayahnya, disebut sebagai daerah terpanas se-Indonesia pada beberapa waktu lalu.
Wilayah tersebut adalah Ciputat, daerah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta.
Kepala bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Carsono menyatakan bahwa hal itu kurang tepat.
Pasalnya, menurut dia, suhu panas adalah kondisi yang fluktuatif. Suhu terpanas di Ciputat yang sempat menghebohkan masyarakat, tidak terjadi terus menerus.
”Saat ini panas yang paling tinggi di Indonesia bukan di Banten lagi tapi di Tanjung Perak berada di 0,4 derajat, lebih tinggi di banding suhu Ciputat yang periode 1 sampai 14 Mei ini. Kan kalo gini jangan di bilang Tangsel sebagai nasional ini fluktuatif berkembang terus,” ujar Carsono, kepada awak media, dikutip pada Rabu (18/5/2022).
Ia pun heran atas pernyataan tersebut. Sebab, kata dia, pabrik yang menghasilkan emisi pun tak ada di wilayahnya.
Kemudian, lanjut Carsono, wilayah Tangsel bukanlah daerah perlintasan garis khatulistiwa. Atas hal itu, Ia oun mempertanyakan tolok ukur atas pernyataan dan perhitungan tersebut.
”Udara panas yang dinyatakan oleh BMKG ini yang sedang saya pertanyakan ke BMKG bisa ada pertanyaan seperti itu dasar nya dari apa, apakah ada alat ukur untuk itu atau bagaimana, itu yang belum saya paham,” tegasnya.
Ia pun semakin heran. Sebab, kata Carsono, Tangsel kini tengah memiliki target penghijauan kota hingga 30 persen.
“DLHK memastikan dengan target penghijauan kota 30% yang dilakukan maka panas yang terjadi tidak bisa dikatakan, karena kurangnya lahan penghijauan,” tutupnya.
Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) membeberkan alasan wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, menjadi daerah dengan suhu panas se-Indonesia. Wilayah Ciputat dilaporkan sempat mengalami kenaikan suhu hingga 36 derajat celsius.
Berdasarkan data pemantauan suhu udara maksimum yang diukur dari Balai BMKG II antara periode tanggal 1 – 11 Mei 2022, daerah Ciputat menunjukkan nilai yang berkisar antara 33.8-36.0 derajat celsius. Nilai ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya.
“Hal ini kemungkinan dikarenakan wilayah Ciputat dan sekitarnya berada pada elevasi rendah dan cukup dekat dengan permukaan laut,” ungkap Kabid Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saefudin, Kamis (12/5/2022).
Selain itu, lanjutnya, tutupan lahan yang didominasi oleh bangunan dan minimnya area pepohonan juga cukup berpengaruh pada peningkatan suhu udara permukaan. Keberadaan bangunan dengan ketinggian homogen juga berpengaruh pada kurang lancarnya aliran udara permukaan. (RMN)
















Komentar