oleh

Pejabat di Pemkab Pandeglang Diduga Robek Bendera Merah Putih

PANDEGLANG – Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pandeglang, Taufik Hidayat diduga merobek bendera merah putih di SDN 7 Pandeglang, Selasa (15/3/2022) lalu.

Aksi tersebut terjadi ketika pejabat Eselon IIb yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) itu melakukan pengawasan ke sekolah yang berada di Kampung Cihaseum, Kelurahan Pandeglang.

Saat tiba ke sekolah tersebut, Taufik mendapati bendera merah putih yang terpasang di tiang sudah dalam kondisi lusuh.
Melihat bendera yang kondisinya kurang baik itu, Taufik memerintahkan ajudannya dibantu penjaga sekolah untuk menurunkan bendera.

Setelah bendera itu turun kemudian langsung merobek bendera dan memasukkannya ke dalam mobil dinas yang diparkir di halaman sekolah. Setelah merobek dan menyimpan bendera ke dalam mobil, pihak sekolah mencari bendera baru dan memasangkannya di tiang.

Iik, penjaga SDN 7 Pandeglang mengaku, saat itu dirinya tengah menyapu dan diminta untuk menurunkan bendera.

Itu cepat turunin. Lalu sama saya diturunin, lalu dia bertanya, kok bendera sudah lecek begini, emang harga bendera berapa? Terus saya jawab nggak tahu,” kata Iik, menceritakan peristiwa tersebut, saat ditemui Tangsel Pos di SDN 7 Pandeglang, Jumat (18/3/2022) pagi.

Selain memerintahkan untuk menurunkan bendera, sambung Iik, Taufik juga sempat menanyakan keberadaan Kepala SDN 7 Pandeglang. Iik menjawab jika kepala sekolah belum datang.

Nggak lama kemudian Pak Tata (guru olahraga, red) datang, lalu pas saya lagi nurunin bendera, sama dia ditarik dan diturunin lagi dan disobek benderanya,” terangnya.

Dikatakan Iik, saat menurunkan bendera hanya terlihat sedikit kerusakan berupa bolong kecil. Namun, saat bendera tersebut dimasukan ke mobil, justru robekannya menjadi lebih panjang. “Lalu dia (Taufik, red) nggak ngomong apa-apa setelah bendera dimasukkan ke dalam mobil dan saya lanjutin nyapu,” akunya.

Iik mengaku, sempat panas dingin melihat bendera merah putih dirobek oleh Taufik. Sebab, bagaimanapun meski kondisinya sudah lusuh, sangat tidak pantas bendera merah putih diperlakukan seperti itu.

Sementara, guru olahraga SDN 7 Pandeglang, Tata mengaku, tidak mengetahui ikhwal kedatangan Taufik Hidayat ke sekolahnya. Karena saat itu ia tengah mengurus anak muridnya lomba di belakang sekolah.

“Namun begitu beres, saya langsung nyamperin ke atas. Di situ ada mobil, lalu ada bapak-bapak manggil kalau ada Pak Kadis. Begitu saya samperin, bendera sudah dipegang. Kemudian Pak Kadis bertanya harga bendera berapa? Saya jawab tidak tahu pak. Kalau alasan Pak Kadis merobek bendera itu saya juga nggak tahu, mungkin sudah terlihat lusuh,” terang Tata.

Dirinya sangat menyayangkan, jika bendera merah putih sampai dirobek, karena dinilai tidak pantas. Sebab, bagaimanapun bendera sebagai lambang negara harus diperlakukan dengan baik.

“Kan itu bendera nasional hasil perjuangan para pejuang dulu, kita kan tinggal menikmati kemerdekaannya. Sumpah saya sedih melihatnya. Lalu saya nyari bendera yang baru yang ada di kantor, pas saya keluar Pak Kepala Dinas (Taufik Hidayat, red) sudah nggak ada dan gerak cepat tanpa pamit. Kalau dalam aturan kami, penurunan bendera itu ada waktunya dan itu pun menjelang sore hari,” akunya.

Taufik Bantah Merobek Bendera

Dihubungi melalui telepon, Taufik membantah telah merobek bendera merah putih di SDN 7 Pandeglang. Ia datang ke SDN 7 Pandeglang untuk melakukan pembinaan dan melihat bendera yang sudah tidak layak dan meminta ajudannya untuk menurunkan bendera tersebut.

“Itu salah (merobek bendera, red). Saat bapak (Taufik menyebut dirinya, red) masuk ke pintu gerbang dan melihat tiang bendera dan ternyata benderanya sudah kumuh dan robek. Sehingga diperintahkan ajudan bapak (Sukron, red) untuk menurunkan bendera dan menyimpannya di mobil,” ujar Taufik.

Setelah itu ia meminta Kepala SDN 7 Pandeglang menemuinya di kantor untuk menjelaskan perihal bendera merah putih yang rusak lusuh tersebut.

“Jadi maksudnya kita memberikan pembinaan, bahwa bendera itu kan lambang negara yang harus harus dipelihara dan dijaga kehormatannya. Bukan sudah belel masih dipasang, jadi gitu. Dan sampai sekarang kepala sekolahnya belum berani menghadap,” akunya.

Taufik menegaskan, peristiwa tersebut murni pembinaan sebagai Kepala Dindikpora ke sekolah-sekolah yang menjadi kewenangannya. Ia tidak mau melihat bendera merah putih yang kumuh, namun masih terpasang.

“Bendera saya bawa. Saya tidak merobek, saya juga paham karena itu (merobek bendera, red) tidak boleh. Maka saya amankan itu,” pungkas Taufik.(rie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya