oleh

MARGIONO: SAYA DIMINTA IBU SAYA KANG NUR

Saya memang kaget. Seperti banyak temen yang lain. Kok Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia mau mencalonkan diri jadi Bupati Tulung Agung. Memang Kabupaten ini tempat kelahiran Margiono. Tetapi mengapa cuma Bupati. Mengapa tidak nyalon Gubernur misalnya. Bisa jadi agak lebih pantas buat seorang Ketua Umum PWI Pusat. Walau itupun masih agak kurang sepadan dengan posisi Margiono sebagai Ketua Umum organisasi wartawan paling bergengsi di Republik ini.

Mungkin jabatan Menteri buat Ketua Umum PWI Pusat sekelas Margiono bisa membuat bangga para anggotanya. Apalagi beliau juga merangkap ketua Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSNI). Dan saya mendengar bahwa Margiono beberapa kali ditawari jabatan Menteri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mungkin bisa jadi Menteri sosial mengingat beliau juga Ketua HKSNI. Tetapi saya mendengar beliau menolak. Beliau ingin konsentrasi mengurusi organisasi wartawan tertua ini.

Akhirnya Margiono cuti dari Ketua Umum PWI. Dia konsentrasi ke Tulung Agung. Waktunya banyak dihabiskan di kampung halamannya. Tentu saja untuk kampanye. Margiono didukung hampir semua partai. Hanya PDIP saja yang tidak mendukung karena punya calon sendiri. Yaitu inkamben. Jadi di atas kertas Margiono bisa menang.

Takdir memang berkata lain. Magiono kalah. Bahkan kalahnya oleh calon yang sudah dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi. Jadi calon lawannya tidak hadir. Hanya wakilnya saja yang bergerak. Dan sekali lagi Margiono tetap kalah.

Belakangan saya mendengar bahwa masuk KPK-nya bupati lawan calon Margiono justru dijadikan senjata. Mereka menggembar-gemborkan bahwa Margiono bermain di Jakarta. Sehingga bisa mengatur agar lawanya ditangkap KPK. Rupanya isu ini dimakan oleh para calon pemilih. Margiono bermain kekuasaan. Margiono bermain kasar sehingga lawannya dicokok KPK. Tentu saja calon pemilih merasa simpati terhadap yang terdolimi. Jadilah perolehan suara Margiono 40,2 persen dan lawannya Syahri Mulyo (dalam tahanan KPK) 59,8 persen.

Tapi kalah menangnya Margiono tetap tidak penting. Saya melihatnya itu hanya takdir yang tidak berpihak padanya. Buat saya jauh lebih penting jawaban mengapa Margiono mau nyalon Bupati. Mengapa mau turun gunung ke Tulung Agung hanya untuk nyalon Bupati. Walaupun itu kampun halamannya. Tetap saja sebagai Ketua Umum organisasi wartawan terbesar tidak masuk akal.

Di tengah wara wiri Margiono ke Tulung Agung akhirnya saya, sebagai pengurus PWI, memberanikan diri bertanya kepada dia setengah menggugat. Kami duduk berdua pada saat itu. Apa sih dicari Pak. Kok cuma nyalon Bupati.

Merendahkan banget marwah organisasi wartawan kita. Dan jawabannya membuat saya tidak bisa berkata-kata. Yang ada malah hormat saya sama beliau semakin bertambah. Saya langsung menyalami dia sambil agak rembes mata saya.

Saya berkata pada beliau sambil menyalaminya,”Anda ternyata lebih hebat dari yang saya kenal,”

“Saya diminta Ibu saya Kang Nur,” begitu jawaban Margiono pada saya. Dia mengakui ini, secara pribadi, memang merasa berat juga untuk mencalonkan Bupati walaupun di kampung halamannya.

Dia bukan tidak paham keberatan teman-teman di PWI. Perasaan itu juga dia rasakan. Tetapi ini semua dia singkirkan demi pengabdiannya pada seorang Ibu. Demi menjalankan perintah Ibunya. Ya demi membahagiakan Ibunya.

Margiono bercerita bahwa suatu ketika dia dipanggil Ibunya. Bapak beliau sudah tiada. Ibunya berkata, tentu saja dalam Bahasa jawa yang kental,

“Nak, Ibu selama ini tidak pernah minta apa-apa sama kamu,” Cerita Margiono. “Tapi yang ini Ibu minta sama kamu,” Begitu Ibunya berkata.”Ibu mau kamu jadi Bupati.”

Mungkin Ibunya Margiono terobsesi betapa hebatnya seorang Bupati ketika suami beliau menjadi kepala desa. Apalagi Bupati jaman dulu. Bagaimana seorang kepala desa memiliki hormat yang tinggi buat seorang Bupati. Sehingga dimata Ibunya Margiono Bupati ini sangat membanggakan.

Semoga pengabdian Margiono pada Ibunya ini menjadi amal sholeh buat beliau. Menjadi tanda bahwa beliau sangat menghormati sosok Ibunya. Sangat mencitai Ibunya. Sangat mengabdi pada Ibunya. Bukankah surga berada di telapak kaki seorang Ibu.

Penulis : Nurjaman/Wartawan Senior

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya