JAKARTA – Kedengarannya menakutkan menjalani kehidupan suluk. Akan tetapi jika seseorang mencoba menjalani pilihan hidup ini ternyata bisa dan bahkan mengasyikkan, karena yang bisa menghadirkan banyak masalah dalam kehidupan ialah pikiran dan logika yang banyak mendiktekan pengandaian.
Akan tetapi begitu pikiran dan logika dipersempit dan digantikan dengan kecintaan mendalam kepada Tuhan, maka beban yang tadinya “menggunung” berubah menjadi kapas atau buluh-buluh yang beterbangan, seperti firman Allah: “Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”. (Q.S. Al-Qari’ah/101:5).
Masalah hidup sesungguhnya adalah masalah persepsi. Persepsi bisa membuat suatu masalah menjadi lebih berat atau menjadi lebih ringan. Para salikin, karena kepasrahannya secara total kepada Allah SWT, tidak pernah merasakan beban hidup yang berat, karena dia yakin, bahwa Allah SWT meringankan dan mengangkat seberat apapun beban kehidupan itu, sebagaimana firmannya:
“Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)-mu”. (Q.S. Al-Insyirah/94: 2-4).Bagi para salikin, merasakan tangan-tangan Tuhan mengangkat masalahnya dengan berbagai cara, antara lain:
1) Masalah dan beban hidup itu nyata adanya, tetapi Allah SWT melapangkan dada hambanya selebar samudera, sehingga masalahnya ibarat sebotol tinta, tidak memberikan warna sedikit pun kepada air samudera. Berbeda dengan segelas air, dapat diubah warnanya oleh setetes tinta.
2) Masalah dan beban hidup itu nyata, tetapi semua orang yang melihat dan mengetahuinya prihatin dan memberi dukungan pada dirinya, sehingga tidak ada beban dan rasa malu yang harus diemban.
3) Masalah dan beban hidup itu nyata adanya, tetapi diyakini dan dinikmatinya cara Tuhan untuk membersihkan dosa masa lampaunya.
4) Wujud masalah dan beban hidup itu dihilangkan oleh Allah SWT. Maryam selalu lengkap menu makanan lengkap di kamarnya tanpa diketahui dari mana asalnya. Nabi Ibrahim selamat dari amukan api. Nabi Musa dan Nabi Yunus selamat dari kedalaman laut, dan banyak lagi kisah ajaib lainnya dalam Al-Qur’an.
Bagi orang yang mencapai haqqul yaqin terhadap Tuhannya, semua makhluk-Nya mencintainya dan tidak akan mencederainya. Bahkan dengan serta merta mereka akan menolong kekasih Tuhannya.
Para salikin berkeyakinan seperti ini. Di dunia ini penuh keajaiban dan keajaiban itu bisa diakses oleh para kekasih Tuhan. Puncak kebahagiaan para salik ialah ketika sudah sampai pada maqam ridha seperti ini. (http://rm.id /AY)














Komentar