JAKARTA – Untuk menjadi seorang salik, pertama kali harus menyadari kelemahannya sebagai manusia. Ia harus belajar dan mencari directions, yang bisa menuntun dirinya agar tujuannya bisa tercapai dengan baik.
Calon salik tidak perlu banyak menggunakan logika dan rasionya dalam menentukan pilihan sebagai salik, karena itu bisa menghambat atau memperlambat perjalanan panjang yang harus ia lalui.
Ia harus mengkondisikan batinnya untuk bersedia menjalani pilihan hidupnya sebagai salik dengan segala konsekwensinya. Di tengah jalan, ia tidak boleh menciptakan jalan bercabang, yang membuatnya gagal mencapai tujuannya. Seorang salik juga harus memperhitungkan keberlangsungan kehidupan dan keutuhan keluarganya. Bukanlah salik yang benar dirinya memperoleh kepuasan hakikat, sementara keluarganya berantakan.
Bahkan jalan hidup seperti itu tidak sejalan dengan ajaran Islam yang ideal sebagaimana dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.Keluarga yang bermasalah bisa menjadi faktor dekonsentrasi dalam menjalani kehidupan barunya sebagai salik.
Para salikin di berbagai wilayah memang bermacam-macam pengalamannya. Ada yang lahir dari keturunan berada, sehingga soal urusan kehidupan duniawi keluarganya tidak ada masalah. Ada yang memiliki sejumlah properti, seperti lahan dan usaha produktif, sehingga hasilnya bisa menunjang kehidupan diri dan keluarganya.
Ada juga yang memang sejak awal merancang hidupnya sebagai salikin, sehingga isteri dan anak-anaknya secara mental bersedia menanggung risiko kehidupan sebagai warga salik. (http://rm.id/AY)













Komentar