oleh

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi & Seks Pranikah Bagi Remaja, Ini Langkah Dinkes Tangsel

SERPONG, Masa remaja merupakan bagian dari proses tumbuh kembang seseorang yang menjadi masa peralihan dari anak menuju dewasa. Pada tahap ini, anak mengalami percepatan pertumbuhan, serta perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologis. 

Oleh sebab itu, pehatian bagi anak berusia remaja sangatlah penting. Mereka sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, seperti masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial.

Pendekatan dan edukasi yang diberikan pun harus tepat. Hal itu akan mempengaruhi tumbuh kembang mereka. Salah satu edukasi yang penting untuk diberikan, adalah pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. 

“Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja,” terang Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar melalui pernyataan resminya, yang diterima pada Rabu (16/2/2022). 

Allin mengatakan, pengertian sehat di sini tidak semata-mata hanya bebas dari penyakit atau kecacatan saja. 

“Namun juga sehat secara mental serta sosial kultural. Untuk itu, pengetahuan dasar sangat perlu diberikan kepada remaja sebagai edukasi seks pranikah,” ungkapnya. 

Allin memaparkan, pengetahuan atau edukasi yang diberikan kepada remaja meliputi banyak hal. 

“Pertama adalah pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi atau aspek tumbuh kembang remaja, dan hak-hak reproduksi. Kemudian usia perkawinan, serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya,” paparnya. 

Selain itu, sang anak juga harus diberi pengetahuan ihwal penyakit-penyakit yang dapat dialami, dan dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi. 

“Terutama penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi. Lalu bahaya penggunaan obat obatan atau narkoba pada kesehatan reproduksi,” tambah Allin. 

Selain faktor-faktor tersebut, anak berusia remaja juga harus dibekali dengan pemahaman yang berkaitan dengan pengaruh sosial media. 

Pasalnya, perkembangan media sosial di era globalisasi ini sangatlah masif. Hal itu pun turut berdampak pada pertumbuhan anak, termasuk dalam perilaku seksual. 

“Kemudian anak juga harus diedukasi mengenai kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya. Terakhir, mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif,” tuturnya. 

Pemahaman-pemahaman itu, kata Allin, menjadi ilmu yang sangat penting ditanamkan kepada para anak berusia remaja. 

Edukasi mengenai hal-hal tersebut, tak hanya wajib diberikan oleh para orang tua saja. Namun, pemerintah dan instansi lain pun berhak untuk memupuk pengetahuan tersebut. 

Mengingat, remaja merupakan anak-anak yang di kemudian hari dapat menjadi generasi penerus bangsa. 

Untuk itu, Allin mengatakan, pihaknya memiliki beragam langkah dan upaya guna meningkatkan kesehatan reproduksi remaja di wilayahnya. Upaya ini pun dilakukan dengan jalinan kerjasama antara instansi di lintas sektoral.  

“Upaya kami (Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan), di antaranya dengan melakukan penyuluhan kesehatan di sekolah, pengembangan program pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) di sekolah, pembentukan posyandu remaja, konseling, edukasi dan pelayanan Keluarga Berencana (KB) di fasilitas Kesehatan

Konseling, serta memberi informasi dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan reproduksi bekerjasama dengan KUA,” paparnya. 

Selain itu, upaya lainnya adalah dengan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan pada para calon pengantin. 

“Lalu pelayanan kehamilan dan persalinan sesuai standar di fasilitas kesehatan, serta pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual (PMS) di fasilitas kesehatan,” tuturnya. 

Sementara, untuk upaya serupa juga ditempuh oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB) Kota Tangsel. 

“Di antaranya dengan sosialisasi pencegahan perkawinan usia anak kepada orang tua, jejaring PPA, anak-anak SMP dan SMA, sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak, pembentukan Pusat Konseling Remaja (PIK R) di SMA/SMK/MA, serta pembentukan Bina Keluarga Remaja (BKR) di tingkat kelurahan,” jelas Allin. 

Upayanya tak hanya berhenti di situ saja. Allin mengatakan, Kementerian Agama pun memiliki upaya serupa lainnya. 

“Dengan melakukan pembinaan remaja dalam rangka pencegahan perkawinan usia anak, penyuluhan keluarga Sakinah oleh penyuluh agama, serta memberi materi pernikahan dalam pelajaran Agama di SMA/SMK/MA oleh guru agama,” terangnya. 

Terakhir, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pun memiliki andil dalam upaya-upaya tersebut. 

“Di antaranya melalui pendidikan agama dan budi pekerti, kegiatan lomba-lomba yang merangsang kreatifitas anak secara positif, serta parenting untuk orang tua,” kata Allin. 

Dengan demikian, ia berharap agar kesehatan reproduksi remaja dapat terjamin. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama, baik orang tua, guru, ataupun lingkungan sosial sekalipun. 

“Seluruhnya mempunyai andil besar dalam menjaga remaja untuk tetap berada di area yang aman dan mengajak mereka melakukan kegiatan positif,” pungkasnya. (RMN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya