oleh

Akses Ibadah & Sekolah Terganggu Akibat Pembangunan Tol Serbaraja, Warga Cilenggang Minta Dibuatkan JPO

SERPONG – Proyek pembangunan Tol Serpong-Balaraja (Serbaraja) kembali dikeluhkan warga Cilenggang, Serpong, Tangerang Selatan. Mereka meminta kepada pihak kontraktor untuk segera dibuatkan jembatan penyebrangan orang atau JPO. 

Pasalnya akses warga yang dahulu sangat mudah untuk dilalui, kini telah sulit. Mereka harus memutar, hingga menghabiskan waktu sampai belasan menit. 

Kesulitan itu dirasakan mulai dari warga yang hendak bekerja, anak yang ingin sekolah, bahkan hingga masyarakat yang ingin beribadah. 

Bentuk permintaan sekaligus protes itu dituangkan warga dalam bentuk spanduk, bertuliskan “Mau sekolah, kerja susah. Kami hanya butuh JPO. Bukan yang lain. Kami sengsara”.

Selain itu, satu spanduk lagi bertuliskan “Kami butuh JPO untuk aktivitas”. Spanduk tersebut ditempelkan warga tepat di tepi pembangunan proyek Tol Serpong-Balaraja. 

Ketua RT 02 RW 01 Kelurahan Cilenggang, Neni Prihartini (47) mengatakan, spanduk bertuliskan permohonan ini merupakan aspirasi yang dikeluhkan oleh warganya. Menyusul atas adanya pertemuan yang sebelumnya sempat dilaksanakan bersama pihak kontraktor. 

“Kemarin kita kan sudah pengajuan surat ke pihak kontraktor, dari warga juga sudah tanda tangan untuk pengajuan JPO. Jadi mudah-mudahan dengan adanya spanduk ini, dapat disetujui dan bisa secepatnya dibangun untuk JPO,” ujar Neni saat dijumpai di lokasi, Senin (13/12/2021). 

Ia mengatakan, keluhan tak hanya datang dari satu ataupun dua orang saja. Namun banyak warganya yang juga merasakan hal serupa. 

“Yang dikeluhkan itu, ya warga ingin ada JPO buat akses menyeberang. Seperti untuk anak sekolah, akses untuk kita lalu lalang, kemudian untuk ke jalan raya, ke pasar, atau kemana gitu. Yang tadinya kita dekat aksesnya, sekarang harus memutar jauh, dampaknya berasa,” terangnya. 

Bahkan, kata Neni, untuk beribadah ke musala saja sulit. Pasalnya tempat ibadah yang semula berada di lingkungannya, kini sudah dipindah. 

“Kasihan juga yang tidak punya kendaraan harus memutar jauh. Musala itu kan tadinya ada di RT 2, karena ada ini (pembangunan proyek) dibongkar jadi tergusur tol akhirnya pindah ke sebelah (sebrang). Jadi ya susah hanya ada satu musala,” paparnya. 

Hal senda juga diungkapkan Imam Sopian (40), tokoh pemuda yang menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Kelurahan Cilenggang, Serpong, Tangsel. 

“Ya dampaknya sekarang sih akses warga agak susah gitu. Biasanya dari rumah ke jalan Cilenggang 2, cuma bisa diakses 2-3 menit, sekarang harus memutar bisa 10-15 menit. Belum macetnya, segala macem,” kata Imam. 

Terlebih jika memutar melewati Jalan Raya Serpong, tepatnya melintasi Kantor Disdukcapil Tangsel, warga mengkhawatirkan jalan yang licin. 

“Kalau lewat sana, PTP, apartemen lewat jalur Dukcapil itu lebih parah lagi. Apalagi kalau hujan, itu licin. Makanya banyak kecelakaan,” kata Imam. 

Atas keluhan itu lah, ia dan warga lainnya berharap agar pihak yang terlibat dalam proyek ini dapat mendengarkan aspirasi atas permohonan akses tersebut. 

“Jadi saya harap yang berkepentingan di sini yang urus proyek ini, ya mendengarkanlah aspirasi masyarakat. Untuk JPO, terutama biar akses masyarakat, mudah. Kalau kita masyarakat sih maunya secepatnya dibuatkan. Kasihan sama anak sekolah, orang ke mushola untuk ibadah, mau ke pasar, mau kerja, mau aktivitas apa gitu,” pungkasnya. (RMN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya