oleh

Renungan Ramadhan Menempuh Jalan Suluk

JAKARTA – Dalam bulan Ramadhan kali ini semakin banyak orang melakukan aktifitas suluk, yang ditandai dengan usaha untuk hijrah dari tradisi kehidupan yang bebas bahkan glamor menjadi lebih alim dan shalih.

Namun, perlu diingat bahwa menjadi salik (spiritual traveler) tidak gampang. Seorang salik terlebih dahulu harus membulatkan tekad untuk “mewakafkan” hidupnya untuk beraktifitas menjadi suluk untuk selamanya, bukan hanya temporer misalnya hanya di dalam bulan suci Ramadhan.

Menjadi praktisi suluk tidak mesti harus meninggalkan kehidupan dunia dengan segala lika-likunya. Tidak sedikit orang berhasil menjalani kehidupan suluk, tetapi juga tetap menjadi dirinya sendiri berhasil sebagai pebisnis, pejabat, seniman, atau aktifis kehidupan duniawi lainnya.

Namun, ada juga salik menempuh jalan secara total meninggalkan profesi normalnya demi untuk menjadi seorang salik sejati. Jika sudah siap segalanya, termasuk mempersiapkan bekal hidup untuk keluarganya, itu tidak masalah, tetapi jangan sampai menurunkan martabat kehidupan diri dan keluarganya. Tidak mesti harus memiskinkan diri untuk menjadi seorang salik.

Jalan hidup salikin sesungguhnya tidak lain adalah pilihan jalan hidup untuk senantiasa dekat dan sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Hidupnya sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT. Apapun wujud keseharian aktifiitas dan perbuatannya semuanya tertuju untuk menggapai ridha Allah Swt.

Hidupnya penuh kepasrahan dan tawakkal kepada-Nya dan tidak pernah mengeluh di dalam menjalani segala resiko kehidupan. Dia selalu tersenyum menjalani kehidupan karena diyakini secara haqqul yaqin bahwa keberadaan hidup ini semuanya atas kehendak Allah SWT. (http://rm.id /AY)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya