JAKARTA – Kemarin, genap 40 hari wafatnya Ketua Dewan Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), H. Margiono. Jasa besar yang ditorehkan almarhum sesama hidupnya, tetap membekas di hati semua pihak. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar, secara fisik memang Margiono telah mati, tapi semua jasanya akan tetap hidup.
Pernyataan Nasaruddin itu disampaikan saat memberikan tausiah dalam acara Doa dan Tahlil 40 hari meninggalnya Margiono. Acara yang digelar secara offline dan online itu, diikuti ribuan orang yang berasal dari keluarga, insan pers, Keluarga Besar Rakyat Merdeka Group dan masyarakat di sekitar rumah almarhum.
Acara dimulai pukul 20.10 WIB. Lima menit lebih awal dari agenda yang telah disusun, 20.15 WIB. Untuk membuka acara, diputar video penghataman Alquran di makam almarhum. Sebelumnya, pihak-pihak yang diminta keluarga almarhum telah membaca Alquran dari juz 1 hingga 30. Usai pemutaran video berdurasi 5 menit, berulah acara dibuka dengan pembacaan surat Al Fatihah oleh pembawa acara, yang dikuti para jemaah.
Sesi selanjutnya sambutan dari keluarga besar almarhum yang diwakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang, Banten, Ustad Abdul Razak. Tak banyak kata yang diungkapkan Razak, dia hanya mengucapkan ribuan terima kasih kepada masyarakat yang telah menyempatkan hadir di malam ke-40 sepeninggal Direktur Utama Rakyat Merdeka Group itu.
Beres sambutan Razak, giliran Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari yang berdiri di hadapan jemaah. Selain memberikan reward kepada almarhum atas dedikasinya di dunia pers, Atal juga sedikit bercerita. Dia mengenal sosok almarhum yang sangar luar biasa semasa memimpin PWI dua periode itu.
“Sangat mudah melihat bentuk pengabdian Margiono. Cukup melihat tulisan-tulisan para juniornya yang dikaryakan menjadi sebuah buku. Sumbangsih Margiono untuk pembangunan pers di Indonesia sangat besar,” kata Atal, membuka pembicaraan.
Usai menjabarkan sosok Margiono, pembawa acara mempersilakan Atal menyerahkan penghargaan yang telah disiapkan khusus oleh PWI. Selain penghargaan “Press Card Number One”, terdapat dua penghargaan lainnya yang dikemas dengan figura.
Terlihat satu di antaranya gambar berwajah almarhum yang meninggal pada Selasa 1 Februari 2022 itu. Seluruh penghargaan tersebut diterima oleh putra putri almarhum yaitu Gio, Rivo, Nadia dan Diego.
Beres menerima penghargaan dari PWI, keempat anak almarhum harus kembali menerima cinderamata berupa buku berjudul “Extraordinary Margiono Wartawan Cerdik, Dalang Nyentrik”. Ini merupakan kumpulan tulisan dan inspirasi tentang almarhum. Kali ini yang memberikan adalah Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara.
Selain kepada keempat anak almarhum, buku tersebut juga diserahkan kepada Atal S Depari, dan beberapa perwakilan sahabat almarhum.
Setelah itu, giliran Prof Nasarudin Umar yang berbicara di hadapan jemaah. Nasar membuka nasihatnya dengan mengenang sosok almarhum. Diakui Nasar, beberapa hari sebelum almarhum wafat, dirinya sempat ngobrol banyak. Dipertemukan di acara pernikahan.
“Beliau meminta saya untuk ngajar sekali dalam sebulan di masjid dekat rumahnya. Saya mengiyakan. Makanya pas saya dapat kabar beliau sudah tidak ada, rasanya tidak percaya,” cerita Nasar membuka tausiahnya.
Pertemuan tersebut diakui mantan Wakil Menteri Agama itu masih terngiang-ngiang di ingatan. Terharu, karena almarhum sempat menyatakan ingin pergi selamanya dalam keadaan husnul khatimah.
“Saya nggak tahu kenapa beliau sampai bicara, Pak Nasar kita sudah harus memperbaiki kualitas akhirat kita. Saya minta Pak Nasar ngajar setiap bulan di masjid. Saya iyakan waktu itu,” sebutnya, menirukan omongan almarhum.
Dia yakin, rencana almarhum diganjar dengan pahala yang berlimpah oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Mudah-mudahan niat baik itu dicatat oleh Allah. Sebab di dalam hadis Nabi Muhammad itu baru rencana sudah dihargai sama pahalanya dengan dilaksanakan. Sebaliknya, rencana buruk baru diganjar pas melakukan,” sebut dia.
Lebih lanjut, Nasar mengakui almarhum merupakan sosok yang berjasa baginya. Berkat Rakyat Merdeka rutin memuat tulisannya, Nasar dihadiahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
“6.000 artikel dalam 5 tahun terakhir. Pengakuan MURI ini cuma ada di Indonesia. Saya nggak tahu benar atau tidak, tapi jelasnya itu pengakuan MURI,” terang dia, sambil mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya.
Almarhum telah mengorbankan kepentingan pribadi demi bangsanya, kolega koleganya seprofesi.
“Makanya saya berkesimpulan almarhum secara fisik udah mendahului, tapi insya Allah jasa beliau akan tetap hidup seperti diabadikan di dalam Alquran, bahkan senantiasa mendapatkan rizkinya,” harap Nasar. (AY)
















Komentar