oleh

Marcos, “Enak Zamanku Tho”

FILIPINA – Rakyat Filipina tidak merindukan zaman Ferdinand Marcos, tapi mengapa putranya, Bongbong, bisa terpilih sebagai Presiden?

Ini pertanyaan menarik. Terlihat seperti kontradiksi, tapi begitulah kenyataannya. Bongbong Marcos adalah putra mendiang diktator Ferdinand Marcos. Saat ayahnya tumbang oleh kekuatan rakyat pada 1986, Bongbong masih berusia 28.

Ketika Filipina memanas, keluarga Marcos kabur ke Hawai menggunakan helikopter Amerika Serikat. Mereka membawa berpeti-peti uang, perhiasan dan barang berharga lainnya. Beberapa persidangan juga membuktikan keluarga Marcos menjarah uang negara.

Tahun 1990-an mereka diizinkan pulang ke Filipina. Di situlah trah Marcos kembali membangun kekuatan politik. Bongbong kemudian menjadi gubernur dan senator.

Senin lalu, Bongbong berhasil mewujudkan mimpi keluarganya, “dari tempat pengasingan di Hawai menuju kursi presiden di Manila”. Lompatan yang dibayangkan ketika keluarga ini menjadi pesakitan 36 tahun lalu.

Kenapa dia bisa menang padahal rakyat Filipina tidak merindukan era diktator Ferdinand Marcos yang disebut sebagai sejarah paling kelam negeri itu?

Para peneliti menyebut beberapa faktor. Pertama, rangkaian serangan disinformasi bertubi-tubi. Gelombang disinformasi itu dimaksudkan untuk merevisi sejarah kelam era Ferdinand Marcos.

Disinformasi itu ibarat deterjen yang berhasil mencuci citra keluarga Marcos, dari hitam menjadi kinclong. Seperti “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”, disinformasi itu juga menyerang dan melemahkan lawan-lawan politik.

Kedua, sumbangan suara dari para pemilih milenial. Saat diktator Ferdinand Marcos berkuasa 40-an tahun lalu dan tumbang pada 1986, generasi ini belum lahir.

Di sekolah, mereka juga tidak mendapat pengajaran yang memadai mengenai kelamnya era Ferdinand Marcos. Kondisi itu dimanfaatkan dengan baik oleh keluarga besar Marcos dan para pendukungnya.

Ketiga, kekecewaan terhadap rezim reformasi. Kekecewaan ini bukan fenomena baru. Kemenangan Presiden sebelumnya, Rodrigo Duterte, mencerminkan kekecewaan itu sekaligus menandai bangkitnya populisme di Filipina.

Gelombang populisme tersebut tumbuh subur akibat kekecewaan dan rasa frustrasi terhadap pemerintahan pasca tumbangnya diktator Ferdinand Marcos.

Misalnya, korupsi yang dulu dihujatkan ke Marcos Sr, di era pemerintahan reformasi justru tumbuh lebih subur. Politik dinasti yang dulu dikritik, justru kian mekar di banyak wilayah di Filipina. Banyak lagi kekecewaan lainnya.

Gelombang kekecewaan itu kemudian melahirkan slogan “enak zamanku toh!” seperti yang banyak ditemui di belakang truk di Indonesia. Slogan itu belum tentu benar, tapi rakyat menginginkan yang “baru”.

Jadi, bukan nostalgia yang menentukan pilihan seseorang, tapi kekecewaan yang terus berproses dan berulang. Sesederhana itu. (SUP)

Artikel ini sudah tayang di rm.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya