BINTARO- Harga pangan di Ibu Kota menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) diprediksi mengalami kenaikan. Namun begitu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menjamin ketersediaan komoditas strategis mencukupi.
Kebutuhan komoditas pangan strategis tersebut antara lain, beras, bawang merah, bawang putih, cabe keriting, cabe rawit merah, daging sapi/kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir dan minyak goreng.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Perikanan (KPKP) DKI Jakarta, Suharini Eliawati memprediksi, kebutuhan pangan strategis naik sekitar tiga sampai lima persen pada saat Nataru. Prediksi itu didasarkan pada data dan kajian tahunan, pemantauan lapa ngan, koordinasi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan, dan daerah pemasok.
“Untuk menghitung kebutuhan pangan strategis di Jakarta tetap mengacu pada jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta sekitar 10,6 juta orang. Kebutuhan itu yang kami siapkan untuk Nataru,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (9/12).
Soal kenaikan harga cabe, Suharini menjelaskan, dipicu pengaruh musim hujan dan tingginya permintaan di daerah produsen.
“Kenaikan harga ini masih dalam batas normal. Sehingga, kami prediksi tidak sampai memberatkan masyarakat,” kata Suharini.
Dinas KPKP melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan. Di antaranya, koordinasi dengan Pemerintah Pusat, Satuan Tugas Pangan, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Selain itu, Dinas KPKP memantau dan menginformasikan stok dan harga pangan melalui Sistem Informasi Ketahanan Pangan (SIKP). Sistem ini terintegrasi dengan Informasi Pangan Jakarta.
“Khusus ketersediaan beras, Dinas KPKP DKI melakukan monitoring di 95 lokasi secara rutin yang terdiri dari distributor, agen dan toko,” terangnya.
Suharini menambahkan, BUMD di klaster pangan juga memiliki sistem yang terintegrasi dengan sistem pangan di Dinas KPKP.
“Dinas KPKP memiliki 20 orang enumerator yang khusus memonitor dan mendata terkait pasokan, stok hingga harga pangan di tingkat pedagang seluruh wilayah,” imbuhnya.
Cabe Dan Migor Mahal
Hasil suvei di Pasar Bintaro kemarin, harga semua jenis cabe makin pedas. Sedangkan, harga minyak goreng (migor) curah belum menunjukkan pergerakan harga. Yakni, tertahan di Rp 19 ribu per liter.
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri mengatakan, meski ada kenaikan harga, sejauh ini permintaan pangan di pasaran belum tinggi.
“Biasanya kenaikan permintaan di Nataru itu mulai masuk di tanggal 10 Desember sampai akhir tahun, bahkan hingga awal tahun,” kata Mansuri, di Jakarta, kemarin.
Dia menyebutkan, komoditi pangan yang perlu mendapatkan perhatian yakni cabe, daging sapi, daging ayam, telur dan bawang merah.
Sejak beberapa hari lalu, harga semua jenis cabe sudah tembus di atas Rp 50 ribu per kilogram (kg). Kenaikan cabe rawit bisa Rp 10.000 per kg per harinya. Kalau cabe merah besar sudah di angka Rp 54.000 sampai 55.000 per kg dari sebelumnya Rp 33.000,” terangnya.
Abdullah mengungkapkan, saat ini banyak daerah dilanda bencana. Hal itu menyebabkan produksi pangan terganggu. Tak hanya produksi, rantai distribusi bahan pangan juga terganggu karena, truk pengangkut kesulitan mendistribusikan bahan pangan dari daerah satu ke daerah lain.
Mansuri meminta, Pemerintah menghitung kembali persediaan bahan pokok agar kebutuhan masyarakat tetap terjamin. Selain itu, harus mengawal jalur distribusi pangan jangan sampai terganggu.
“Pemerintah harus memantau dengan ketat harga bahan pokok di pasar agar tidak ada spekulan yang bermain,” pinta Mansuri.
Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabe Indonesia (AACI), Abdul Hamid membenarkan kenaikan harga cabe. Menurutnya, musim hujan memengaruhi jumlah produksi cabe. Sebab, tanaman cabe sangat rentan terhadap kondisi cuaca.
“Harga cabe selalu menjadi masalah setiap tahun terutama pada bulan November, Desember, dan Januari. Sementara, pada bulan Mei hingga Agustus harga cabe cenderung rendah karena musim dan iklim yang mendukung,” ungkapnya.
Selain faktor musim, lanjutnya, jumlah petani yang paham budidaya tanaman cabe masih sedikit.
“Mereka tidak membedakan cara menanam saat musim kemarau maupun musim hujan. Padahal, tingkat serangan hama penyakitnya berbeda sehingga butuh penanganan yang tidak sama,” jelasnya.(RM.id/AY)
















Komentar