JAKARTA- Kader Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Ketua DPP Partai NasDem Effendy Choirie (Gus Choi) berharap, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar NU ke-34 di Lampung, tidak rangkap jabatan. Baik itu terdaftar di partai politik, atau menjadi pengurus di ormas lain.
Ia pun mengungkap tiga alasan di balik pandangannya. Pertama, agar kerja PBNU dapat bekerja secara efektif dan konsentrasi maksimal.
Kedua, supaya PBNU independen dan mandiri. Tidak terkontaminasi dan terpapar oleh virus permainan politik dan kepentingan busuk dari luar, baik langsung maupun tidak langsung.
Ketiga, agar terjadi distribusi kader dan diversifikasi peran pengabdian bagi para kader NU.
“Dalam 20 tahun terakhir, telah terjadi booming kader NU yang bergelar sarjana S1, S2, S3, bahkan profesor dengan berbagai latar belakangan disiplin ilmu. Mereka lulus dari berbagai universitas, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dari Timur Tengah maupun dari Barat. Mereka semua sudah siap berkontribusi kepada NU, dengan disiplin ilmunya masing masing. Karena itu, jangan ada lagi monopoli peran dan jabatan,” beber Gus Choi dalam keterangannya, Kamis (9/12).
“Sekarang ini, di PBNU, MUI, dan partai orangnya sama. Itu lagi itu lagi. Seolah NU tidak punya kader. Untuk apa rangkap jabatan, kalau tidak maksimal. Apa sih yang dicari dengan jabatan rangkap ormas dan partai,” tandasnya.
Menurut Gus Choi, PBNU harus terdiri dari kaum ulama yang negarawan, pengusaha, teknokrat, profesional dan aktivis.
Sedangkan kader NU yang mengabdi di luar NU, sesekali bisa diundang untuk silaturahmi. Membahas berbagai isu strategis, baik terkait keagamaan maupun kebangsaan dan kerakyatan.(RM.id/AY)
















Komentar