JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati melakukan inspeksi medadak (sidak) ke empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (9/4).
Dari hasil sidak, ditemukan fakta masih ada kendaraan mewah yang mengonsumsi solar bersubsidi. Seperti mobil pribadi jenis Sport Utility Vehicle (SUV) dan Multi Purpose Vehicle (MPV).
Selain itu, juga ada truk industri/pengangkut hasil pertanian yang mengisi BBM jenis Biosolar.
Namun, secara umum, pasokan BBM terpantau aman. Tak ada antrean panjang kendaraan di SPBU. Stok mencukupi. Jika ada kekurangan, bisa segera diambil langkah-langkah pemenuhan kembali.
“Sejak saya mendarat sampai saat ini, suplainya aman. Tidak ada antrean. Semuanya berjalan lancar,” kata Arifin.
Arifin berharap, setiap SPBU dapat melakukan kegiatan promosi BBM non subsidi dengan baik. Agar masyarakat menggunakan BBM nonsubsidi.
“Pemerintah mengalokasikan solar subsidi untuk masyarakat yang perlu dibantu. Bukan untuk industri-industri yang melakukan bisnis komersial. Industri yang masih menggunakan solar subsidi, tolong ganti pakai BBM yang tidak bersubsidi. Supaya tidak mengurangi jatah masyarakat, yang berhak mendapatkan alokasi BBM subsidi,” tegas Arifin.
Di SPBU 11209108 Rest Area KM 65A, Kabupaten Serdang Bedagai, Arifin mengingatkan keluarga yang sedang menggunakan mobil sewaan agar jangan menggunakan solar subsidi
Demikian juga saat berbincang dengan Daf, supir truk yang membawa air mineral dari Binjai ke kota Padang. Arifin memberikan pemahaman, bahwa BBM Subsidi hanya untuk masyarakat yang berhak.
“Bilang sama Bos. Harusnya pakai Pertadex. Jangan pakai Biosolar,” ujar Arifin.
Kepada Arifin, Daf mengaku hanya dibekali uang BBM untuk jenis biosolar. Ia mengaku, sedikitnya tiga kali mengisi solar dengan jumlah masing-masing 100 liter, yaitu di Serdang Bedagai, Balige, Padangsidempuan, sebelum akhirnya kembali ke Padang.

Menurutnya, antrean kendaraan yang mengisi BBM kerap terjadi di wilayah Balige. Bahkan, hingga 2 jam.
Tak jarang setelah antre, Daf mengaku tidak mendapatkan BBM. Terpaksa, dia membeli di pengecer dengan harga Rp 7.500 per liter.
“Biasanya di SPBU Rp 5.150, kalau di pengecer Rp 7.500. Tapi masih bisa dapat barangnya (solar),” ungkap Daf.Selanjutnya, di SPBU 14201127, Jalan Sisingamangaraja XII, Kota Medan, Arifin menjelaskan kepada awak media, tentang perlunya pembatasan penggunaan solar subsidi. Menyusul lonjakan harga minyak dunia dan sulitnya suplai.
“Kalau tidak bisa kita disiplinkan, tentunya akan menyebabkan meningkatnya jumlah subsidi dan kompensasi pemerintah. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel harga minyak bumi, akan memberikan dampak tambahan beban sebanyak Rp 5,7 triliun. Saat ini, harga minyak sudah di atas 100 dolar AS per barel. Sedangkan patokan dalam APBN sekitar 60 dolar AS per barel. Kurang lebih 40 juta dolar AS. Kalikan saja,” jelas Arifin.
“Kami minta pengertian dari seluruh pihak, agar tidak mengambil BBM subsidi yang bukan haknya. Beli BBM tidak bersubsidi. Kami ingin, anggaran subsidi bisa dipakai untuk menumbuhkan perekonomian,” tambahnya.
Sementara itu, Nicke Widyawati memastikan, saat ini tidak ada kelangkaan di wilayah Kota Medan karena pasokan BBM terus ditambah.
Dari empat SPBU yang didatangi, kondisi stok aman dan tidak ada antrean panjang.
“Kondisi sudah stabil, tidak ada masalah. Seluruh daerah kita lakukan pemantauan. Kita cek,” ucap Nicke.
Tahun ini, kuota BBM jenis minyak Solar di Sumatera Utara ada di angka 1.077.670 kilo liter (KL). Sementara kuota Pertalite yang tersebar di 33 kabupaten/kota, mencapai 680.293 KL.
Penyaluran biosolar tahun 2022 untuk wilayah Sumatera Utara, kini sudah melebihi 111 persen dari kuota.
Di Region Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), total penyaluran sampai dengan 6 April 2022, telah 8 persen melebihi kuota. Sementara penyaluran Pertalite pada tahun ini, sudah melebihi kuota sebesar 227 persen.
Total di Region Sumbagut, sampai dengan 6 April 2022 sudah melebih kuota sebesar 32 persen.
Pemerintah mengalokasikan solar subsidi untuk masyarakat yang perlu dibantu. Bukan untuk industri-industri yang melakukan bisnis komersial. ( http://rm.id /AY)
















Komentar