JAKARTA-Sudah sejahterakah petani kelapa sawit di Indonesia? Berbagai terobosan dilakukan pemerintah dan swasta untuk meningkatkan taraf hidup para petani kelapa sawit. Dari mulai pengadaan bibit, penyemaian, perawatan tanaman, peningkatan produksi hingga urusan pemasarannya.
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mencoba memberdayakan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) petani kelapa sawit. Kepengurusan Apkasindo hadir di 22 provinsi dan 116 kabupaten/kota se-Indonesia.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Apkasindo Periode 2020-2025, Gulat Manurung mengungkapkan, terkait upaya meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit, pihaknya fokus di sejumlah program.
“Fokus kinerja Apkasindo ini untuk petani yakni, optimalisasi produksi petani sawit (PSR), peningkatan SDM petani dengan menciptakan petani milenial dan beasiswa BPDPKS. Lalu kami juga melakukan pendampingan legalitas lahan petani dan membentuk korporasi petani sawit,” ungkapnya saat menjadi pembicara pada webinar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Journalist Fellowship Training 2021, Selasa (24/8).

Dari diagram status berkelanjutan multi dimensi perkebunan kelapa sawit rakyat, Apkasindo membuat jaring laba-laba petani sawit. Perkembangan petani sawit berdampak positif terhadap aspek sosial, aspek ekonomi, dan aspek ekologi. Ketiga aspek ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Apkasindo juga telah melakukan survei terkait dampak Covid-19 terhadap petani sawit. Responden merupakan Petani Sawit Anggota Apkasindo (PSAA) yang tersebar di 11 provinsi dan 31 kabupaten/kota di Indonesia.
Hasil survei yang diambil dari tatap muka itu menunjukan para petani sawit tak terdampak pandemi. 90% kegiatan panen tak berubah selama pandemi, 69% jumlah panen TBS tidak berubah sejak pandemi, dan 63% jumlah tenaga kerja upahan tidak berubah sejak pandemi.(ave)
















Komentar