oleh

Maskulinisasi Wajah Agama

JAKARTA – Salah satu tantangan masa depan ialah pengembangan nilai-nilai ajaran agama yang berwajah maskulin. Agama memang memiliki dua wajah.

Satu wajah feminin yang mewarisi karakter nama-nama jamaliyyah yang dominan di dalam Asma’ al-Husna, seperti al-Rahman (Maha Pengasih), al-Rahim (Maha Penyayang), al-Lathif (Maha Lembut), dll.

Sebaliknya agama juga memiliki wajah maskulin yang mewakili nama-nama jalaliyyah yang tidak begitu dominan di dalam Asma’ al-Husna.

Implementasinya di dalam kehidupan bermasyarakat juga terjadi. Bahkan di dalam diri setiap orang ada energi maskulin (kejantanan/struggeling/jalaliyyah) dan ada energi feminin (kelembutan/nurturing/jamaliyyah).

Tuhan juga memperkenalkan diri-Nya melalui dua jenis sifat-sifat ini. Tuhan Maha Tegar (al-Jalal) dan Tuhan Maha Lembut (al-Jamal).

Namun Tuhan lebih banyak dan lebih sering meng­gunakan dan menampilkan potensi feminin-Nya ketimbang dengan potensi maskulin-Nya.

Lihatlah dalam al-Asama’al-Husna’-Nya, lebih didominasi oleh sifat-sifat feminin ketimbang sifat-sifat maskulin-Nya. Seolah-olah Tuhan lebih menonjol sebagai The Mother’s God ketimbang sebagai The Father’s God.

Buktinya, sifat-sifat jamaliyyah-Nya memenuhi halaman demi halaman Al-Qur’an, sementara sifat-sifat jalaliyyah-Nya, selain kurang juga jarang digunakan. Diri-Nya sebagai Maha Penyayang (al-Rahim) terulang sebanyak 114 kali, Maha Pengasih (al-Rahman) terulang sebanyak 57 kali.

Bandingkan dengan diri-Nya sebagai Maha Pendendam (al-Muntaqim) dan Maha Angkuh (al-Mutakabbir) hanya terulang masing-masing sekali di dalam Al-Qur’an.

Demikianlah Allah SWT dan demikian pula Al-Qur’an-Nya. Tentu demikian pula dengan Nabi Muhammad Saw. Karena akhlaknya ialah Al-Qur’an,” sebagaimana hadis riwayat ‘Aisyah.

Jadi aneh, jika Tuhan, Kitab Suci, Nabi, dan ajaran Agama begitu lembut tetapi penganutnya begitu kasar. Pasti ada yang salah.

Allah Swt mempertontonkan diri-Nya menciptakan dan memelihara alam semesta (al-hamdu lillahi Rabb al’alamin) dengan penuh sifat-sifat feminin, kasih sayang (al-rahman al-rahim). Bahkan diri-Nya diperkenalkan sebagai Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang sebagaimana dalam konsep basmalah (Bi ism Allah al-Rahman al-Rahim).

Tentu kita sebagai hamba dan sekaligus khalifah (representatif)-Nya, sepatutnya mencontoh Sang Pemberi Mandat khalifah me­niru diri-Nya.Orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat maskulin Tuhan, akan didominasi rasa: aktif, progresif, kuasa, independen, jauh, dan dominan.

Sedangkan orang yang mengi­dentifikasi diri dengan sifat-sifat feminin Tuhan akan didomi­nasi rasa: tawadlu, dekat, kasih, dan pemelihara. Jika kita ingin dekat dengan Tuhan tirulah sifat-sifat dominan Tuhan di dalam diri-Nya, yaitu Pengasih, penyayang, dan feminin.

Konsep taskhir (penundukan alam semesta) kepada ma­nusia bukan semacam SIM untuk mengeksploitasi alam raya melampaui ambang daya dukungnya, seenak-enaknya menguras, menebang, menimbun, menggali, menggeser, apalagi memusnahkan, memunahkan, dan membakar.

Manusia sebagai khalifa harus merawat, melestarikan, dan mengembangkan ekosistem jika ingin mencontoh sifat rububiah Tuhan.

Jika pembangunan digerakkan dengan energi maskulin semata, maka pasti yang akan terjadi adalah penggusuran, penebangan, penimbunan, pembakaran, dan pemusnahan.

Akibatnya, alam sebagai fasilitas dan sarana dalam men­gaktualisasikan kekhalifahan akan muak dan mungkin akan membangkang, bahkan akan balik protes, menyerang, dan berunjuk rasa menentang kesewenang-wenangan manusia.

Demonya alam raya, ya seperti tsunami, longsor, banjir, gunung meledakkan dirinya, gelombang mengglung dirinya, angin bertiup kencang, sampai kepada serangga dan hama juga ikut mengambil bagian.

Yang menjadi masalah mengapa Tuhan, Nabi, dan Kitab Suci begitu feminin tetapi umat kita maskulin bahkan cenderung semakin maskulin dengan berbagai fenimena. Inilah tantangan umat masa depan, ba­gaimana kita berjuang untuk demaskulinisasi pemahaman agama. (AY/ rm.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya