oleh

Interview Eksklusif Bersama Putra B.J Habibie, Pendiri Universitas Kedirgantaraan Kelas Internasioal di Tangsel

SERPONG, Jika bicara soal industri Kedirgantaraan Tanah Air, tentu masyarakat teringat dengan nama salah satu tokoh nasional, yakni B.J Habibie. Bahkan, atas kegigihan dan dedikasinya dalam membangun industri tersebut di Tanah Air, ia juga dikenang sebagai Bapak Kedirgantaraan.

Kegigihannya untuk memajukan Kedirgantaraan di Indonesia, nampaknya tak terhenti setelah B.J Habibie tutup usia. Cita-cita itu tetap bersemayam dan dilanjutkan oleh buah hatinya, Dr.-ing Ilham Habibie.

Kemarin, Jumat (1/4/2022), putra tokoh Kedirgantaraan Tanah air itu menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke Associate Tower Intermark BSD City, Serpong, Tangerang Selatan, untuk sekadar mengobrol dan menumpahkan segala pandangannya terhadap dunia pendidikan dan Kedirgantaraan di Indonesia dalam acara interview eksklusif bersama Jajaran Redaksi Rakyat Merdeka yang dipandu oleh Ratna Susilowati, selaku Pimpinan Umum Rakyat Merdeka beserta jajaran Redaksi Rakyat Merdeka.

Pembicaraan berlangsung begitu hangat. Ia membuka diskusi senja tersebut, dengan memaparkan visi misinya yang diimplementasikan secara langsung dengan mendirikan salah satu universitas Kedirgantaraan kelas Internasional yang berlokasi di wilayah Tangsel.

Universitas itu dinamakan sebagai international University Liaison Indonesia (IULI). Kampus tesebut, kini berlokasi di Associate Tower Intermark BSD City, Serpong, Tangerang Selatan.

“Kita memperoleh lisensi pada 2014 silam. Sebenarnya, didirikannya sebelum 2014, tapi dapat lisensi itu 2014. kita beroperasi sebagai universitas itu setahun setelalahnya (2015). Nah kampus kita berada di dalam gedung Associate tower ini, kayanya ada sinergi yang bagus ditemukan di sini. katakan IULI ini adalah edukasinya, dari awal kita menawarkan sistem di mana para mahasiswa itu kalau dia mau bisa mendapatkan pengalaman ke luar indonesia. Jadi bahasa pengantar itu bahasa Inggris dan belajar Bahasa Jerman,” ujar ilham Habibie, salah satu pendiri IULI tersebut.

Kampus yang kini diminati karena kuaitas di bidang Kedirgataraannya itu, kurang lebihnya memiliki sebanyak 11 program studi (prodi). 

“Di antaranya terkait aviation , terkait dengan Kedirgantaraan. Di IULI ini kita adalah bukan teori dan prakteknya mendesain pesawat tapi lebih kepada pengoperasiannya. bagaimana dengan perawatannya, pengoperasiannya dan lain-lain. jadi lebih ke aspek aviasi bukan mendesain pesawat. itu juga disentuh dalam kurikulum tapi titik beratnya lebih ke pengoperasian, jadi aviasi,” terangnya.

Ilham Habibie mengutarakan, pendirian IULI bukan hanya semata-mata bertujuan sebagai pembangunan dunia pendidikan biasa. Namun, Ia juga turut menuangkan seluruh cita-cita dan pengalaman yang telah diperjuangkan oleh ayah dan dirinya, yakni untuk memajukan Industri Kedirgantaraan di Tanah Air.

Hingga saat ini, terhitung sudah lebih dari lima ratusan sarjana yang dihasilkan dari Universitas Kedirgantaraan tersebut. Dalam tahun pertama berdirinya saja, sudah ada 100 sarjana yang tercetak. Angka tersebut semakin bertambah di setiap tahunnya.

Peningkatan itu, menandakan betapa masih tingginya minat dan keinginan anak bangsa terkait Industri Kedirgantaraan untuk meneruskan cita-cita mulia sang Ayah untuk memajukannya.

Berdirinya Universitas Kedirgantaraan tingkat Internasional ini, diimplementasikan dengan menimbang sistem pendidikan yang ada di Jerman. Seperti diketahi, masa kecil hingga dewasa Ilham Habibie dihabiskan di Jerman, mengikuti jejak Sang Ayah.

Seluruh jenjang pendidikannya, ia juga jalani di sana. Mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, hingga program s3 ia jalani di Jerman.

“Banyak sistem pendidikan yang baik untuk diterapkan di Indonesia, yang utama adalah adanya kolaborasi universitas dengan industry, termasuk dengan negara lain. Sistem pendidikan di Jerman dari pengalaman saya itu betapa eratnya kerjasama antara industri dan universitas. Karena di bidang penelitian, banyak sekali penelitian di dunia dan Indonesia itu banyak sekali yang bagus tapi keterkaitan dengan dunia industri itu masih sangat minim,” tuturnya.

“Kedua, adalah kalau kita lihat di Indonesia itu ada Tridharma, pendidikan pertama, penelitian, dan pengabdian. Nah yang penelitian ini di Indonesia, karena masih kurang itu harus kita masifkan. Kalau negeri mungkin sudah berjalan kalau swasta belum, karena mungkin dia titik beratnya mengejar target. Untuk meneliti kan dia ada sisi manfaat dari sisi komersialny. Kalau di Indoneisia menurut saya adalah secara prinsip harus diperbaiki,” sambungnya.

Konsep itulah, yang kini sedang Ia coba terapkan dalam pembelajaran di IULI. Menurutnya, yang terpenting adalah memperbaiki kialitas penelitiaan dan keterkaitannya dengan Industri. Sehingga, kesinambungan antara dunia pendidikan dan industri dapat terjalin dengan baik. 

 Namun tentunya, untuk mewujudkan itu semua sungguh tidak mudah. Banyak sekali tantangan yang mulai menghadang. Dari tantangan itu, dunia pendidikan Indonesia akan diuji dengan segala rintangan.

 “Yang jelas satu, kita semua telah melalui ditrupsi dari bagaimana kita bekerja dan belajar. Menemukan suatu modus belajar yang paling optimal adalah mencampurkan antara yang virtual dan pshycal. Kedua, belajar bukan hanya sekadar pengalaman dari kita mendengar, mencatat, dan mencerna. Ada body language, gesturasi seseorang, momen bersama yang tercipta, dan spontanitas itu semua beda. Jadi paling tidak, harus menerapkan sistem hybrid. Karena kalau 100 persen fisikal itu akan membosankan, begitu pula kalau 100 persen online,” katanya.

Melalui Kampus IULI ini lah, Ilham Habibie bercita-cita ingin menjadi pelopor sistem pendidikan yang unggul di Indonesia. dalam sistem pembelajarannya, Ia menerapkan konsep yang inovatif. Menawarkan segala kemudahan sebanyak mungkin. 

 “Di IULI saya ingin sekali menjadi pelopor perintis dalam hal yang mencoba Insya Allah berhasil agar arah pendidikan kita lebih massal tapi tetap kualitas diperhatikan. Karena setiap negara yang maju, sejahtera, mempunyai kualitas hidup tinggi. Itu adalah negara di mana level pendidikan itu tinggi,” tandasnya. (RMN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya