JAKARTA – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya meningkatkan pengamanan untuk mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah Ibu Kota dan sekitarnya pada malam hari. Hal itu dilakukan dengan menurunkan 300 petugas dan Pasukan K9 atau anjing pelacak untuk berpatroli.
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Irjen Fadil Imran mengatakan, 300 personel tersebut tergabung dalam Tim Patroli Perintis Presisi (TPPP). Selama dua bulan beroperasi, tim mampu mencegah sejumlah potensi gangguan Kamtibmas
Fadil meminta, kerja sama warga untuk melaporkan segala macam potensi gangguan Kamtibmas seperti tawuran, pembegalan, kegiatan mabuk-mabukan, dan narkoba. Pihaknya akan bergerak ke lokasi kejadian jika menerima laporan.
“Temuan-temuan di lapangan akan terus kami perbaiki. Perlengkapan petugas, metodologi patroli akan terus kami sempurnakan,” kata Fadil di Jakarta, kemarin.
Selain petugas, lanjut Fadil, pihaknya melibatkan pasukan anjing pelacak. Tujuannya, untuk membantu pelacakan saat dilakukan patroli kejahatan jalanan pada malam hari.
Pasukan K9 akan masuk ke kampung-kampung untuk mengantisipasi atau mencegah potensi tawuran.
Fadil menegaskan, anjing pelacak yang dilibatkan dalam kondisi baik. Pihaknya memberikan tempat tinggal yang layak, memberi makanan dan memeriksa kesehatannya.
Sehingga anjing bisa bekerja dengan baik untuk mencium barang bukti kejahatan seperti narkotika dan lain-lain.
Pelaku Tawuran Berusia Remaja
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimbau para orangtua dan masyarakat meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Sebab, mayoritas pelaku tawuran dan pembegalan di Jakarta masih berusia remaja.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria menuturkan, orangtua punya kewajiban memperhatikan anak-anaknya yang pergi ke luar rumah.
Orangtua harus memastikan bahwa anak-anaknya tidak terlibat sebagai pelaku kejahatan dan tawuran.
“Mari jaga. Didik dan awasi anak kita setiap hari. Terlebih mereka yang masih remaja perlu dapat perhatian, bimbingan dari orangtua,” pesan Riza di Jakarta, kemarin.
Politisi Gerindra ini memerintahkan, Pengurus Rukun Tetangga (RT)/Rukun Warga (RW) meningkatkan pengawasan kepada setiap warganya yang keluar masuk lingkungan.
“Jangan sampai ada kegiatan tawuran di lingkungan,” katanya.
Menurutnya, lingkungan berperan besar dalam mencegah tawuran remaja. Setiap warga memiliki peran untuk melakukan pengawasan.
“Kami juga meminta aparat keamanan untuk meningkatkan pengawasan, pelaksanaan dan penindakan terhadap pelaku tawuran agar bisa memberikan efek jera,” pesan Wagub.
Riza juga mengingatkan para remaja agar tidak mudah tersulut emosi. Semua anggota masyarakat merupakan sahabat, teman dan saudara.
“Jangan sampai melakukan tindakan yang tidak terpuji. Apalagi tawuran yang dapat mencelakakan orang lain,” imbuhnya.
Dosen Politeknik llmu Pemasyarakatan (Poltekip), Imaduddin Hamzah menilai, banyak faktor yang menyebabkan remaja terlibat kejahatan jalanan.
Pertama, aspek usia. Seseorang di usia remaja, sedang mengalami pergolakan psikologis menuju kedewasaan dan pembentukan identitas diri.
“Kemampuan kontrol emosi belum stabil. Pertimbangan melakukan tindakan rasional dan moral masih terbatas,” katanya.
Kedua, aspek lingkungan. Jika remaja tumbuh dalam keluarga dan komunitas yang familiar dengan kekerasan, konflik sosial, dan kriminalitas, maka akan membentuk kepribadian remaja yang serupa.
Kondisi ini, lanjutnya, diperparah dengan minimnya pilihan kegiatan positif yang dimiliki remaja tersebut. Dan ketiga faktor kontrol sosial dari orangtua dan masyarakat.
Menurutnya, rendahnya kontrol sosial dari orang tua dan masyarakat membuat para remaja lebih berani melakukan hal-hal yang melanggar norma hukum. (http://rm.id)















Komentar