oleh

Warga Tangsel Salat Idul Adha Secara Virtual

PAMULANG-Warga Komplek Kedaung Hijau, Pamulang merayakan Idul Adha secara virtual. Sedikitnya ada 70 kepala keluarga atau 90 persen warga turut serta dalam kegiatan ini. Dari mulai takbiran, salat Ied hingga khutbah dilakukan secara daring.

Ketua RW 05 Kedaung Hijau, KH Rasud Syakir mengungkapkan, Tim Satgas Covid RW 05 dan warga muslim melaksanakan salat Idul Adha secara virtual pada Selasa (20/7) pukul 06.30 WIB. Dirinya juga menjadi imam dan khotib.

Kendati memang virtual, tetap melaksanakan fiqih. Pelaksanaan salat, imam, bilal dan khotib berada di dalam Masjid An Nur, Komplek Kedaung Hijau.

“Seluruh jamaah berada di rumah masing-masing. Dengan catatan posisi makmum rumahnya berada di belakang masjid dan jamaah mengikuti imam dari awal sampai selesai, ” ujar Rasud.

Lanjut alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, adapun yang salat di dalam masjid sangat terbatas, hanya lima orang, yakni khotib, imam, bilal, MC, dan ketua panitia. Langkah ini diambil agar tidak melanggar aturan pemerintah juga tidak meninggalkan kewajiban sebagai kaum muslimin melaksanakan Salat Idul Adha.

“Semoga pelaksanaan ini pertama dan terakhir. Jika Corona sudah berlalu, maka tidak akan dilaksanakan salat secara virtual kembali. Tentu ini telah didasarkan banyak pertimbangan dan pendapat-pendapat ulama dan kaidah Islam dalam kondisi darurat, maka dapat diperbolehkan, ” tambah ia.

Dia menjelaskan, di tengah Covid, salat Idul Adha boleh dilaksanakan di rumah masing-masing. Tapi tidak semua orang bisa khutbah. Maka ini salah satu solusi agar jamaah tetap melaksanakan salat dengan rukun syahnya salat.

Lanjutnya, jamaah setiap jamaah bisa mendengar, melihat saat khutbah disampaikan. Hal ini sama halnya saat melaksanakan salat Jumat dengan layar tivi. Ini sekarang banyak ditemui di banyak masjid. Sebetulnya afdholnya masjid yang bertingkat tidak boleh rapat, tapi harus terlihat dari atas ke bawah.

“Salat Idul Adha virtual ini tidak ubahnya masjid yang menyelenggarakan salat Jumat imamnya tidak terlihat antara lantai satu dan dua. Hanya melihat dari tivi yang dipasang oleh pengurus masjid. Semestinya harus terlihat antara lantai satu dan dua,” tambah ia.

Mayoritas jamaah menyampaikan gembira bisa melaksanakan salat Idul Adha, meski melalui daring. Sehingga sebagai masyarakat dapat dikategorikan patuh pada aturan pemerintah dalam memutus matarantai penyebaran Covid-19. Agama Islam sangat mewanti-wanti dalam berbicara soal kesehatan termasuk menghadapi wabah.

Sementara, Sekretaris MUI Kota Tangsel, Abdul Rojak menanggapi adanya warga yang salat Idul Adha secara virtual, dirinya menyampaikan, ada beberapa lokasi di Kota Tangsel yang melaksanakan salat Idul Adha secara virtual. Dan memang dalam kondisi darurat dibolehkan, hanya saja ini menjadi perdebatan oleh para ulama.

“Boleh dilaksanakan secara virtual. Meski boleh, tapi menjadi polemik. Dari aspek hukum, merujuk pada Mazhab Imam Syafii salat berjamaah itu harus hadir dan harus melihat langsung dengan imam. Sedangkan kalau virtual jaraknya jauh bisa terhalang, misalnya sinyal kurang bagus dan sebagainya. Tapi yang penting mendengar, melihat baik secara langsung dan tidak langsung. Maka virtual dibolehkan karena darurat,” ujar Rojak. (din)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya