JAKARTA – Pandemi Covid sudah melandai. Masyarakat sudah beraktivitas seperti sebelum pandemi. Jalanan di kota-kota besar macet lagi. Pasar-pasar tradisional penuh sesak. Pusat-pusat perbelanjaan ramai pengunjung.
Melihat keadaan yang makin membaik sebulan terakhir ini, semula kita optimis, ekonomi rakyat akan bangkit lebih cepat. Tapi karena dalam waktu yang hampir bersamaan, muncul ancaman krisis pangan dan energi global akibat perang Rusia-Ukraina, ekonomi rakyat yang mulai menggeliat bisa terpuruk lagi.
Harga komoditi pangan dan energi di pasar dunia beberapa pekan terakhir ini naik gila-gilaan.
Akibatnya, inflasi di negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Latin mulai tak terkendali. Kenaikan inflasi yang tak wajar juga terjadi di negara-negara Timur Tengah.
Dampak krisis pangan dan energi global kini mulai kita rasakan. Makin tingginya harga minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng (migor) di pasar internasional telah mengerek harga migor di pasar dalam negeri.
Untuk membantu rakyat kecil yang tak mampu lagi membeli migor, pemerintah kemudian menyalurkan BLT (Bantuan Langsung Tunai). BLT migor besarnya Rp 100 ribu per bulan dan diberikan sekaligus untuk tiga bulan sebesar Rp 300 ribu.Di sektor energi, naiknya harga minyak mentah dunia sejak lima pekan terakhir ini telah memukul negara-negara pengimpor BBM, termasuk Indonesia.
Meski Indonesia menjadi negara produsen minyak, tapi karena kebutuhan BBM domestik jauh di atas angka produksi, maka impor minyak mentah kita juga besar.
Harga minyak mentah jenis Brent, Kamis (14/4) lalu berada di level 106 dolar AS per barel. Ini melesat jauh dibanding awal pandemi Maret 2020 lalu, di mana harga minyak jenis Brent berada di kisaran 30 dolar AS per barel.
Naiknya harga minyak dunia secara langsung akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Terutama akibat membengkaknya subsidi BBM.
Kalau harga minyak dunia terus berada di level yang sangat tinggi, pemerintah mengisyaratkan bakal menaikkan harga BBM jenis pertalite dan solar.
Sebelumnya, Pertamina telah menaikkan harga pertamax. BBM non subsidi ini semula harganya Rp 9.000 per liter naik menjadi Rp 12.500 per liter.
Kita berharap, pemerintah menghitung lagi secara cermat, apakah memang harga BBM subsidi itu sudah saatnya dinaikkan. Atau mungkin masih bisa ditunda hingga akhir tahun ini.
Kalau memang harus segera dinaikkan, berapa naiknya, apakah Rp 500 atau Rp 1.000 per liter.
Dampak kenaikan harga BBM subsidi terhadap ekonomi rakyat di lapisan paling bawah juga harus diantisipasi. Sebab, naiknya harga BBM akan mendorong kenaikan harga bahan kebutuhan pokok.
Oleh karena itu, ke depan ini, dalam menghadapi situasi ekonomi global yang makin tak menentu, bantuan sosial untuk rakyat di lapisan paling bawah mesti diberikan lebih banyak lagi.
Kalau rakyat di lapisan paling bawah selamat dari terjangan krisis ekonomi, negeri ini juga akan selamat. (http://rm.id/AY)
















Komentar