oleh

Intelektual Yang Menyamar Jadi Dalang

Beliau asli Tulung Agung. Saya lahir di Malang, besar di Blitar, dan punya leluhur di Tulung Agung juga. Jadi, kami sering meneguhkan chemistry dengan mengobrolkan tanah leluhur.

Obrolan ringan lainnya adalah soal wayang. Beliau dalang, saya penggemar berat wayang.

Beliau suatu ketika terkejut, ketika saya cerita, waktu kecil saya tidak mau dikhitan kalau tidak ditanggapkan wayang kulit.

Saya ingat dalangnya waktu itu adalah duet “Kadis-Parmin”, yang sedang kondang di sekitar Blitar Jawa Timur pada akhir tahun 1980-an.

Saya dan Mas Margiono (Mas MG) baru kenal setelah bersama-sama menjadi anggota Dewan Pers periode 2010-2013.

Kesan pertama saya kurang begitu bagus. Dalam suatu pertemuan, dengan gayanya yang selengekan, beliau membantai argumentasi saya soal perlindungan keselamatan wartawan. Namun dalam perjalanannya, kami banyak berkomunikasi.

Beliau terhitung jarang datang ke Dewan Pers.

“Gus, Margiono ke mana aja? Bilang ke dia, saya ingin ketemu”. Begitu kata Pak Bagir Manan kalau sudah berbulan-bulan Mas MG tidak nongol ke kantor Dewan Pers, Jalan Kebun Sirih Jakarta.

Beberapa kali, Pak Bagir menyatakan demikian. Saya yang disuruh jadi Mak Comblang.

“Mas, Pak Bagir menanyakan!”. “Mas, Pak Bagir kangen!” begitu pesan singkat saya ke Mas Margiono. “Ya”, hanya begitu jawab Mas MG.

Tetap saja dia tidak datang ke Dewan Pers. Hingga suatu ketika, saya ubah pesan singkat itu menjadi “Mas, Pak Bagir marah sama sampeyan”.

Spontan, beliau menelepon saya dan minta waktu ketemu Pak Bagir. Beberapa kali trik “Pak Bagir marah” saya gunakan, dan berhasil menggiring Mas MG mampir ke kantor Dewan Pers.

Hingga suatu hari, beliau mengajak ketemu saya dan mengatakan, “Mas Agus saya tidak punya banyak waktu untuk Dewan Pers. Tolong pekerjaan-pekerjaan saya yang nangani Mas Agus ya. Nanti saya carikan ubo rampe-nya”.

Perjalanan dinas ke luar negeri adalah saat yang sangat intens bisa ngobrol dengan Mas MG.

“Mas, sama saya ngobrol yang ringan-ringan saja ya. Kalau yang berat-berat, sama mas Bambang (BHM) saja,” kata Mas MG disambut tawa kami semua.

Kalau tiga senior (Mas MG, Mas BHM dan Pak Satria Narada) duduk satu meja, ada saja kelakar dan ledekan yang terlontar.

Pak Bagir dan kami semua menikmati benar kebersamaan itu. Pak Bagir sering menyentil harian Rakyat Merdeka, dan kami selalu tertawa mendengar jawaban jenaka Mas MG.

Suatu ketika, Pak Bagir mengeluh, pada saat menjadi Ketua Mahkamah Agung, beliau selalu menjadi sasaran kritik harian Rakyat Merdeka.

Yang Pak Bagir ingat betul, adalah ketika Rakyat Merdeka menampilkan headline dengan judul “Si Bagir Anak Nakal”.

Dengan entengnya, Mas MG merespon dengan mengatakan, “Ampun Pak Bagir, judul berita itu yang membuat saya sendiri”.

Setelah saya tidak lagi menjadi anggota Dewan Pers, kami justru intensif bertemu. Banyak hal yang kami bicarakan. Kalau ada kegelisahan yang bersifat “intelektual”, Mas MG sering ngajak ketemu.

“Bagus”, “bagus”, begitu respon beliau atas ide-ide saya. Seperti respon Pak Tino Sidin ke anak kecil yang sedang belajar menggambar.

Tidak semua ide yang dia bilang bagus itu ditampung dan laksanakan.

Kesan saya, beliau ingin ngobrol dengan saya untuk menghilangkan kesumpekan. Begitu sumpek itu hilang, ambyar juga ide-ide yang telah diobrolkan. Namun, saya tetap respek bahwa beliau mau mendengar gagasan, pemikiran orang-orang berlatar belakang non praktisi.

Dan tidak semua ide yang dibicarakan itu ambyar. Sebagian diwujudkan secara programatik. Misalnya saja, menyusun buku tentang hubungan Presiden SBY dengan pers, buku tentang harapan komunitas pers terhadap Presiden Jokowi, dan menyelenggarakan kompetisi jurnalistik Piala Presiden.

Satu hal yang juga berkesan, beliau sering minta kisi-kisi untuk pidato dalam acara Puncak HPN.

Sering, beliau minta bahan pidato ke saya. Saya buatkan rancangan pidato yang bagus, rapi, terstruktur. Namun ketika tiba waktunya, beliau pidato lepas saja, tanpa teks, dan tanpa kisi kisi.

Tentu saja saya kaget, kecewa. Namun, mesti diakui, pidato itu hampir selalu luar biasa. Mengejutkan dan jauh lebih keren ketimbang teks yang saya siapkan.

Saya cukup bangga, sekali-sekali masukan saya dikutip dalam pidato itu.

Beliau adalah orator terbaik yang pernah saya temui. Cara dia berpidato, struktur pidato dan isi pidato itu sangat khas. Joke yang dia lontarkan selalu mengena dan menyegarkan.

Presiden, Ketua DPR, Menteri, Gubernur tak luput dari sentilan pidato Mas MG.

Tidak kurang, beliau juga menertawakan diri sendiri.

“Bapak Presiden, saya sudah instruksikan ke seluruh anggota PWI, jangan sekali-kali nekat nyalon Bupati, Walikota atau Gubernur. Kalau ketuanya saja gagal, apalagi anggotanya.” begitu kelakar beliau suatu ketika, merujuk pada kegagalannya dalam pemilihan Bupati Tulung Agung.

Kontan saja, semua hadirin tertawa, termasuk Presiden Jokowi.

Dalam urusan pemilihan joke, sindiran, dan sentilan yang kontekstual, aktual sekaligus mengena, Mas MG tiada duanya.

Di tangan beliau, menjadi tidak penting lagi apakah suatu pidato itu formal atau informal. Yang jelas, pidato itu mampu membangun suasana kebersamaan. Pesan-pesan tersampaikan. Beliau jadi episentrum yang tak kalah moncer di panggung, dibanding Presiden, Menteri atau Gubernur.

Jika melihat pidato-pidato beliau yang bernas, kondang dan mengundang respek banyak kalangan itu, saya yakin beliau adalah intelektual yang sedang menyamar menjadi dalang.

Beliau memiliki kualitas intelektual dalam bentuk lain. Bukan dalam bentuk karya ilmiah atau presentasi terstruktur dalam seminar-seminar.

Melainkan dalam wujud kecerdasan yang khas dalam menjalankan organisasi, mengelola jaringan, merawat hubungan dengan kalangan pemerintahan dan swasta, serta dalam menciptakan peristiwa publik dengan daya magnitudo nasional.

Dengan kecerdasan yang khas itu, beliau juga merupakan organisator jempolan. Semua unsur beliau rangkul dan fasilitasi dalam penyelenggaraan HPN. Beliau berhasil membangun sense of belonging banyak pihak atas HPN.

Di tangan mas MG, HPN benar-benar menjadi pestanya komunitas pers nasional. Namun, beliau juga tidak mudah merah telinga menghadapi kritik, dan sumeleh menghadapi cemooh.

Suatu ketika, beliau meminta saya untuk menyampaikan evaluasi soal HPN atau PWI.

“Nuwun sewu Mas, menurut saya, PWI ini terlalu berlebihan dalam mencurahkan energi untuk HPN. Dalam hitungan kasar saya, 7 bulan dalam setahun, energi PWI habis untuk HPN. Apakah tidak ada agenda penting yang lain,” kata saya waktu itu.

Mas MG terperanjat dengan hitungan yang saya buat. Beliau setuju untuk melakukan refocusing perhatian PWI. Namun, hal itu memang tidak mudah untuk dilaksanakan.

Satu hal yang cukup pasti, dengan kecerdasannya, beliau telah membawa PWI menjadi organisasi yang lebih inklusif dan diterima semua pihak.

Beliau sangat menekankan, HPN bukan hanya milik PWI, melainkan milik semua unsur pers nasional. Dalam hal ini, menurut saya beliau berhasil.

Saya menyaksikan sendiri, sebagai Ketua PWI, beliau akrab tanpa jarak dengan Ketua AJI dan IJTI. Beliau sangat santun menghadapi kritik AJI atau IJTI. Dengan sikap yang demikian, beliau juga mendapatkan respek dari AJI dan IJTI.

“Bagus”, “bagus”, hampir selalu demikian respon Mas MG atas kritik AJI atau IJTI. Seperti Pak Tino Sidin menilai buah-tangan anak-anak yang sedang gemar menggambar.

Pada suatu ketika, beliau menitipkan pesan untuk AJI kepada saya. Beliau ingin berterima kasih, karena AJI sering melontarkan kritik tajam terhadap PWI maupun HPN.

Kritik yang menurut Mas MG sulit diperoleh dalam forum internal PWI. Kritik yang penting sebagai bahan renungan dan koreksi agar PWI menjadi organisasi yang lebih baik. Terlepas dari bagaimana implementasinya kemudian, sikap ini menurut saya keren! Dewasa dan intelek.

Hal yang sama juga saya tangkap dari pandangan beliau tentang independensi media. Di hadapan pemerintah, termasuk dalam HPN, beliau berpandangan komunitas pers harus bersikap baik dan penuh hormat. Komunitas pers harus menjaga hubungan baik dengan pemerintah.

Namun, terkait dengan sikap pemberitaan, tidak ada yang bisa mengendalikan masing-masing media.

Demikian juga sebagai Ketua Umum PWI, Mas MG merasa tidak bisa –dan tidak harus– mengendalikan sikap pemberitaan masing-masing anggotanya.

Hal ini menjadi kendala psikologis, ketika Mas MG begitu dekat hubungannya dengan Presiden SBY, tetapi tidak bisa mengerem pemberitaan media yang kritis kepada Presiden SBY, pada berbagai isu.

Wajar, jika seorang presiden berpikir kedekatannya dengan Ketua Umum PWI bisa cukup meredakan kritisisme pers terhadap dirinya.

Namun, Mas MG seingat saya tidak pernah terjebak dalam suasana yang memaksanya menjanjikan hal itu. Dengan lihai, dia menghindar dari keterpaksaaan untuk menjanjikan hal tersebut.

Namun, hubungannya dengan Pak SBY, juga dengan Pak Jokowi tetap berjalan baik. Memberi penghargaan terhadap Presiden, menurut Mas MG tidak otomatis sama artinya dengan jaminan tidak akan ada berita negatif tentang Presiden.

Untuk saya pribadi, Mas MG adalah sahabat, kakak yang selalu mendukung dan memberi motivasi. Beliau mendorong saya untuk menjadi orang yang lebih besar dan berguna untuk dunia media massa Indonesia.

Saya merasa terharu bahwa Mas MG berusaha melibatkan saya dalam beberapa proyek beliau, meskipun kontribusi saya sesungguhnya tidak terlalu dibutuhkan, atau dapat digantikan oleh orang lain.

Oleh karena itu, saya sangat terpukul ketika mendengar Mas MG terpapar Covid-19. Terpukul, karena pada minggu-minggu sebelumnya kita janjian untuk bertemu, namun terbentur kesibukan masing-masing.

Tak ada lagi kesempatan untuk bertemu, kesempatan untuk ngobrol. Ada penyesalan mendalam mengapa menunda-nunda pertemuan dengan beliau.

Hingga akhirnya datang kabar duka itu, Mas MG meninggal dunia. Selamat jalan sang motivator. Saya bersaksi, panjenengan orang baik. Swargo langgeng.

Penulis : Agus Sudibyo/ Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga International Dewan Pers. RM.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya